bTAdcGyjDYctOAregRSyJNQ4u84UQ71qfMmtpvCa

Dampak Pasangan yang Selalu Curiga dan Tidak Percaya

Anxiety, Traum, Self-healing, mindfulness, mental wellness, clien story

Ketika salah satu pihak dalam hubungan selalu merasa curiga atau tidak dapat mempercayai pasangannya, efeknya bukan hanya merusak suasana hati untuk sementara waktu. Pengaruh tersebut dapat menyebar, mendalam, dan berkepanjangan baik pada individu maupun pada hubungan itu sendiri. Dalam artikel ini, kita akan mengulas efek utama yang bersifat psikologis, perilaku, relasional, dan fisik, serta langkah-langkah penyembuhan diri dan intervensi yang telah didukung oleh penelitian untuk mendukung proses pemulihan. Kata kunci utama yang akan dibahas meliputi self healing, serta variasinya seperti belas kasih kepada diri sendiri, perawatan diri, pengasuhan ulang, dan perbaikan diri.

1. Dampak psikologis pada individu yang dicurigai

Orang yang selalu dicurigai oleh pasangannya biasanya mengalami peningkatan tingkat stres, rasa cemas, malu, serta penurunan rasa percaya diri. Kecurigaan yang terus-menerus menciptakan kondisi kewaspadaan yang melelahkan mental dan mengganggu kemampuan mereka untuk mengatur emosi, individu menjadi lebih mudah marah, mengalami kesulitan dalam berkonsentrasi, dan lebih rentan terhadap depresi. Penelitian yang mengkaji konsekuensi dari kecurigaan dan tanda-tanda penipuan menemukan adanya hubungan antara kecurigaan dalam hubungan dan gejala psikologis, termasuk kecemasan serta depresi.

2. Dampak Prilaku dan Dinamika Hubungan

Kecurigaan yang terus-menerus dapat mengarah pada siklus perilaku yang negatif: seperti memeriksa ponsel, meminta bukti, membatasi kebebasan, atau sebaliknya, mengasingkan diri dan menghindari perselisihan. Untuk pasangan yang merasa dicurigai, respons yang muncul bisa berupa sikap defensif, kebohongan kecil (untuk menjaga privasi), atau kelelahan emosional semua faktor ini berkontribusi pada penurunan mutu keintiman dan kepuasan dalam hubungan. Penelitian menunjukkan bahwa kurangnya kepercayaan dapat meningkatkan tingkat kecemburuan, pengintaian, dan perilaku kontrol, khususnya pada individu dengan kecemasan terkait keterikatan.

3. Risiko konflik, kekerasan emosional, dan jangka panjang

Ketidakpercayaan yang tidak ditangani dapat bertransformasi menjadi kekerasan emosional, seperti penyalahgunaan secara verbal atau psikologis, ataupun dapat menimbulkan konflik yang lebih parah. Selain itu, pola ketidakpercayaan yang berkepanjangan sering kali berhubungan dengan trauma dalam hubungan individu yang pernah mengalami pengkhianatan atau penyiksaan emosional cenderung mengulangi pola ketidakpercayaan, baik sebagai korban maupun pelaku. Penelitian mengenai dampak dari kecurigaan terhadap kesetiaan menunjukkan bahwa ada efek yang nyata pada aspek psikologis, fisik, dan perilaku.

4. Dampak Fisik dan Kesehatan

Kondisi stres yang berkepanjangan akibat hubungan yang penuh dengan kecurigaan meningkatkan kadar hormon stres (kortisol), menyebabkan gangguan tidur, menurunkan sistem kekebalan, dan berkontribusi pada permasalahan kesehatan jangka panjang seperti tekanan darah tinggi atau masalah metabolisme. Selain itu, terdapat juga bukti bahwa kekerasan pada rumah tangga dan hubungan yang tidak sehat dapat memiliki efek jangka panjang pada kesehatan mental dan otak.

Mengapa Kecurigaan Selalu Muncul ?

Faktor-faktor yang menimbulkan kecurigaan dapat bervariasi, antara lain:

1. Pola attachment atau keterikatan yang tidak stabil

Seseorang dengan pola keterikatan yang cemas lebih mudah curiga, karena mereka sangat takut untuk ditinggalkan atau dikhianati, meskipun tidak ada tanda-tanda yang jelas.

2.  Rendahnya Rasa Percaya Diri

Berdasarkan penelitian, rendahnya rasa percaya diri terkait dengan tingginya tingkat kecemburuan dalam hubungan. seseorangBerdasarkan penelitian, rendahnya rasa percaya diri terkait dengan tingginya tingkat kecemburuan dalam hubungan. Individu dengan rasa harga diri yang rendah condong lebih sering merasa tidak aman dan meragukan pasangan mereka. dengan rasa harga diri yang rendah cenderung lebih sering merasa tidak aman dan meragukan pasangan mereka.

Jurnal : PENGARUH SELF ESTEEM TERHADAP ROMANTIC JEALOUSY PADA INDIVIDU DEWASA AWAL - Yosef Agung Novaliano Marpaung - JCA Psikologi

Kesimpulan : Individu dengan tingkat self esteem yang tinggi, maka akan di ikuti oleh tingkat romantic jealousy yang rendah. Sebaliknya semakin rendah tingkat self esteem seseorang, maka semakin tinggi tingkat romantic jealousy seseorang terhadap pasangan kekasihnya. 

3. Pengaruh dari Eksternal atau Pengalaman Buruk di Masa Lalu

Konten media mengenai perselingkuhan atau kenangan buruk di masa lalu dapat memperburuk kecemasan terkait keterikatan dan kecurigaan, sehingga seseorang lebih mungkin melihat bahaya meskipun tidak ada.

Self Healing: Metode Ilmiah untuk Penyembuhan

Saat suatu hubungan terkena dampak dari siklus ketidakpercayaan dan kecurigaan, self healing bukan hanya tentang memaafkan atau “mengabaikan”. Dalam konteks psikologi, self healing ialah proses pemulihan diri yang dilakukan dengan kesadaran yang meliputi pengaturan emosi, pergeseran pola pikir, dan rekonstruksi hubungan dengan diri sendiri serta orang lain.

Berikut adalah metode self healing yang didasarkan pada penelitian ilmiah:

1. Self-Compassion sebagai Fondasi Penyembuhan Diri

Self-compassion ialah kemampuan untuk bersikap baik pada diri sendiri, terutama di saat menghadapi kesulitan atau kegagalan. Self-compassion terbukti memiliki hubungan positif dengan kesehatan hubungan interpersonal, pengurangan kecemasan, dan peningkatan kesejahteraan mental. Meta-analisis membuktikan bahwa self-compassion berhubungan dengan penurunan stres psikologis dan peningkatan kesejahteraan mental.

Studi yang melibatkan pasangan muda menunjukkan bahwa orang-orang yang memiliki self-compassion tinggi melaporkan kualitas hubungan yang lebih baik, tingkat kepercayaan yang lebih kuat, dan kepuasan dalam hubungan yang lebih tinggi, karena mereka lebih mampu menemukan keseimbangan antara kebutuhan diri dan pasangan dengan cara yang sehat.

Jurnal : “Self-Compassion, Psychological Well-Being, and the Quality of Romantic Relationships: A Study With Malaysian Emerging Adults

Kesimpulan: Studi ini mengungkapkan bahwa self-compassion tidak hanya berpengaruh positif terhadap kesehatan mental secara langsung, akan tetapi juga memperkuat ikatan romantis melalui peningkatan kepercayaan, ungkapan kasih saying, dan komitmen. Semakin individu mampu memberikan cinta pada dirinya sendiri, maka semakin baik kualitas hubungan yang mereka jalani.

Dasar dari pendekatan ini ialah:

  • Berhentilah menyalahi diri sendiri terkait maslah hubungan yang rumit
  • Mengurangi cara berpikir defensif atau perasaan rendah diri setelah terjadinya konflik dalam hubungan
2. Mindfulness dan Regulasi Emosi

Mindfulness merupakan praktik kesadaran yang memungkinkan seseorang untuk menjadi lebih peka tanpa menjawab secara impulsif terhadap pikiran dan perasaan. Studi analisis menyeluruh menunjukkan bahwa mindfulness dapat meningkatkan perawatan diri, memperbanyak kesadaran akan pikiran negatif, serta membantu individu untuk mengamati emosi tanpa merespons dengan cepat. Dalam hal hubungan, mindfulness bisa mengurangi reaksi terhadap kecurigaan, membantu seseorang untuk bersabar, melihat kenyataan, dan menggunakan alasan ketimbang emosi ketika merespons perilaku pasangan.

BACA JUGA ARTIKEL : MINDFULNESS LENGKAP

3. Reparenting dan Sekuritisasi Internal

Reparenting merupakan suatu proses psikologis di mana individu "merawat ulang" diri mereka dengan memenuhi kebutuhan emosional yang mungkin tidak terpenuhi saat masa kecil. Dalam konteks hubungan, saat seseorang mengalami pola keterikatan yang tidak stabil, reparenting berfungsi untuk membangun rasa aman di dalam diri memperbaiki pola pikir seperti:

" Saya berharga, Saya dicintai, Saya cukup dan merasa aman "

Metode ini kerap diterapkan dalam terapi yang berfokus pada keterikatan dan hasilnya menunjukkan adanya peningkatan dalam pengaturan emosi serta kualitas hubungan antarpribadi.

Kesimpulan : Kecurigaan yang terus-menerus dalam sebuah hubungan bukan sekadar "perasaan biasa"  ini dapat menjadi pola negatif yang menimbulkan kerusakan mental, pertikaian yang tidak konstruktif, dan rasa tidak aman yang berkepanjangan. Namun, dengan melakukan self healing yang melibatkan kasih sayang terhadap diri sendiri, kesadaran penuh, dan pengelolaan emosi, seseorang dapat mengembalikan kesehatan mental dan kualitas hubungan mereka.

Post a Comment

Followers