bTAdcGyjDYctOAregRSyJNQ4u84UQ71qfMmtpvCa

Kecemasan Sosial dan Trauma : Ketika tubuh " Mengambil alih " cerita masa lalu

Client Story, Mindfulness, Self-Healing, Mental Wellness, Anxiety Disorder, Staycation & Healing Trip

 Catatan Seorang Terapis di Ruang Praktek

Kisah ini nyata! Ia seorang wanita yang cedas dan ulet, dalam dunia kuliahnya ia mahasiswi yang aktif dan sering diskusi. Namun siapa yang menyangka, dibalik periangnya terdapat luka yang cukup mendalam.

Saat itu ia menghubungi saya untuk bisa bertemu dan ingin bercerita banyak.

Saat bertemu, tatapan matanya tidak seperti orang pada umumnya, bahasa tubuhnya menandakan sedang tidak nyaman saat itu. Ya, benar saja! ia memberikan informasi kepada saya jika " obat dari psikiater " sudah di minum dalam beberpa hari kebelakang.

lalu saya bertanya " apa yang terjadi ? ", " ada apa dengan kamu ? ".

mulailah ia bercerita.

Saat ini, saya bisa dibilang sedang stress cukup tinggi, saat ini saya posisi sudah tidak nyaman bertemu dengan banyak orang, dikantor pun jika meeting, saya harus minum obat agar saya bisa tenang. saya sulit tidur, dan hidup terasa tidak gairah.

Lalu saya bertanya kembali, " Apa yang sebenarnya terjadi ? "

Sambil menangis tersedu ia pun menceritakan

1. Saya habis putus dari pacar, karena saya dapat kekerasan fisik. dan itu rasanya sakit! saya baru tau sikapnya seperti itu, ibu saya tau hal inipun langsung nangis, saya merasa bersalah, belum lah saya tuntaskan dendam saya dengan beberapa saudra, sekarang saya ngebuat ibu sedih

Saya pun langsung spontan melontarkan pertanyaan, " Dendam sama saudra ?, maksudnya bisa dijelaskan ".

2. Saya masih ingat sekali, keluarga saya sering di hina dengan beberapa saudara, dibilang ornag miskin gak usah banyak gaya, orang miskin gak usah gaya pake kuliah kuliah segala. Bukan hanya itu saja, semasa kecilpun saya sering mendapatkan tindakan pilih kasih, itu yang sering saya ingat dan yang membuat saya dendam sampai saat ini. saya berjanji " saya tunjukan ke mereka saya mampu, dan saya bisa angkat derajat orang tua saya yang dulu sering di hina ".
========================================================================

Bagaimana pengalaman masa kecil dan penghinaan membentuk kecemasan sosial ?

Pengalaman diabaikan secara emosional atau dihina semasa kanak-kanak (seperti penghinaan verbal, ejekan, dan sering dianggap remeh) dapat meningkatkan kemungkinan munculnya gangguan kecemasan sosial ketika seseorang dewasa. Bukti dari penelitian menunjukkan hubungan antara perlakuan buruk di masa kanak-kanak dengan tingkat gejala yang lebih parah, masalah dalam fungsi sosial, dan kecenderungan untuk menghindari interaksi sosial.

Secara literal, ketika seseorang telah mengalami "penyiksaan" secara berulang, pikiran dan tubuh memahami bahwa interaksi sosial bisa mengancam harga diri atau keselamatan emosional. Karena itu, reaksi melawan atau melarikan diri muncul dengan cepat: jantung berdetak kencang, tangan bergetar, suara terdengar bergetar, dan kadang muncul "tatapan hampa" sebuah bentuk disosiasi ringan saat sistem saraf merasa tertekan.

Peran Penghinaan, Malu dan Dendam

Rasa malu dan ketakutan akan penilaian masyarakat menjadi faktor pendorong yang kuat untuk menghindar dari situasi tertentu. Malu sangat berkaitan dengan kecemasan sosial karena berhubungan dengan bagaimana penilaian orang lain terhadap diri kita, tekanan ini menyebabkan kecemasan yang tinggi ketika harus berada di bawah perhatian orang lain. Selain itu, keinginan untuk membalas setelah mengalami penghinaan atau untuk menunjukkan diri pada orang yang pernah merendahkan dapat menimbulkan pertentangan batin: keinginan untuk tampak tegas di luar, namun tubuh bereaksi panik di dalam. Penelitian mengindikasikan bahwa perasaan malu atau kekhawatiran tentang penilaian sosial memiliki peranan penting dalam mempertahankan kecemasan sosial.

Dampak Kekerasan Pasangan ( IPV ) Terhadap Kecemasan dan Gejala Trauma


Kekerasan fisik dari pasangan (intimate partner violence — IPV) sering meninggalkan jejak trauma yang kuat: hiperawareness, kecemasan kronis, gangguan tidur, gejala PTSD, dan disfungsi interpersonal. Korban IPV lebih berisiko mengalami kecemasan berat dan gejala post-trauma yang memperburuk kemampuan mereka untuk berada di lingkungan sosial yang ramai. IPV juga bisa memicu respons ketakutan tubuh yang sangat sensitif terhadap isyarat ancaman membuat tubuhsiap melawansehingga muncul tremor, gemetar, atau freeze.

Mengapa Tatapan Mata Kosong dan Menghindari Menatap Terjadi ?

Tatapan kosong sering kali mencerminkan disosiasi, metode tubuh atau pikiran untukmenghentikanperasaan yang sangat menyakitkan agar seseorang tidak merasa terbebani. Menghindari melihat langsung ke mata orang lain adalah sebuah cara untuk melindungi diri: tatapan sering digunakan untuk menilai maksud orang lain; bagi mereka yang pernah mengalami penghinaan atau luka, tatapan dari orang yang berbicara dapat dipandang sebagai bahaya, sehingga menghindar menjadi respons yang dipelajari.
=========================================================================

Post a Comment

Followers