Trauma Tidak Selalu Tentang Kejadian Besar ( Inilah Catatan Seorang Terapis di ruang praktik )
Incidence of Post-Traumatic Stress Disorder After Road Traffic Accident — Fekadu et al., Frontiers in Psychiatry (2019)
Memberi bukti empiris bahwa RTA ( Road Traffic Accident ) sering diikuti gejala PTSD—berguna untuk memperkuat klaim bahwa trauma “kelihatannya kecil” bisa menyebabkan gangguan psikis serius.
Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) Resulting from Road Traffic Accidents — Systematic review (MDPI / 2025)
Menyimpulkan bahwa persentase PTSD setelah RTA signifikan (angka pooled bervariasi antar studi) dan sering disertai depresi/ansietas.
=========================================================================
Saya mencoba lanjut menggali informasi.
“Coba ibu ingat-ingat lagi, apakah ada kejadian lain yang menyertai kecelakaan itu?”
Ibu Linda berpikir sejenak.
“Setahu saya tidak ada Pak. Saya baik-baik saja waktu itu.”
Trauma tidak pernah beridiri sendiri, saya meyakini hal itu. Setiap trauma pasti mempunya kejadian pendukungnya. Tidak ada emosi besar yang muncul tanpa penguat di belakangnya.
Semua kejadian tersimpan di memori baik disadari maupun tidak. Dan sering kali, memori penting itu justru disembunyikan oleh ego.
Saatnya Terapi Dimulai
Saya mulai sesi terapi dengan membawa Ibu Linda masuk ke kondisi hipnosis. Tujuannya satu: agar memori lama bisa muncul dengan utuh. Teknik yang saya gunakan adalah Regression, memutar kembali memori masa lalu untuk menemukan akar masalah.
Ibu Linda mulai bercerita :
" Saya masih ingat, waktu itu ban sepedah motor saya tergelincir dan motor muter 180 derajat pak, dan seketika saya jatuh "
Lalu, setelah kejadia tersebut, apa lagi yang ibu lihat ?
" Saya melihat anak kecil berdiri didepan pintu pak "
Siapa anak kecil itu, Bu ?
" Itu anak saya pak, dia sangat shock melihat saya jatuh, dan disitu saya merasa bersalah "
Bukan jatuh dari motor yang menjadi trauma utama. Tetapi rasa bersalah terhadap anaknya. Perasaan bersalah itulah yang mengunci emosi negatif, lalu diperkuat oleh ego menjadi trauma naik kendaraan.
Setalah saya rasa akar masalahnya adalah " rasa bersalah terhadap anaknya ", maka langkah selanjutnya adalah memproses akar masalah tersebut dengan berbagai macam teknik tentunya.
Ketika emosi negatif sudah dilepaskan, dan ego sudah berdamai, saya mengakhiri sesi dan mengembalikan Ibu Linda ke kondisi sadar. Hasilnya sangat memuaskan, ibu linda langsung uji coba menghidupkan kendaraan ( mobil ), dan emosi itu sudah mulai netral perlahan, sudah mulai bisa mengontrol emosinya.
Post a Comment