bTAdcGyjDYctOAregRSyJNQ4u84UQ71qfMmtpvCa

Narcissistic Personality Disorder (NPD): Antara Citra Diri, Luka Psikologis, dan Tantangan Relasi

Mental Wellness, mindfulness, anxiety, trauma, self healing, travel & wellness, Staycation & Healing Trip

Pendahuluan

Di zaman media sosial, kata narsistik menjadi lebih umum untuk menggambarkan orang yang suka menunjukkan diri, menginginkan pujian, atau terkesan egois. Namun, dalam konteks psikologi klinis, narsistik lebih dari sekadar karakter atau cara berperilaku. Narcissistic Personality Disorder (NPD) merupakan masalah kepribadian yang serius, rumit, dan seringkali disebabkan oleh luka psikologis yang dalam.

Banyak orang yang memiliki NPD ( Narcissistic Personality Disorder ) terlihat percaya diri, berkuasa, dan berhasil di luar. Namun, di balik penampilan itu sering terdapat kerentanan emosional, rasa takut terhadap penolakan, dan harga diri yang tidak stabil. Artikel ini akan menjelaskan NPD ( Narcissistic Personality Disorder ) secara mendalam menurut DSM-5, hasil penelitian ilmiah, serta pengaruhnya dalam kehidupan sehari-hari.

Pengertian Narcissistic Personality Disorder

Definisi resmi dari DSM 5 ( Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders ) :

Berdasarkan edisi kelima dari Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5) yang diterbitkan oleh American Psychiatric Association (APA, 2013), Gangguan Kepribadian Narsisistik (NPD) termasuk dalam kategori gangguan kepribadian dari Cluster B.

Menurut DSM-5, NPD didefinisikan sebagai:

A pervasive pattern of grandiosity (in fantasy or behavior), need for admiration, and lack of empathy, beginning by early adulthood and present in a variety of contexts.”

“Pola perilaku yang menetap di mana seseorang merasa dirinya sangat hebat, sangat membutuhkan pujian dan pengakuan, serta kurang mampu memahami perasaan orang lain. Pola ini biasanya mulai terlihat sejak usia dewasa muda dan muncul dalam berbagai situasi kehidupan, seperti dalam hubungan, pekerjaan, maupun lingkungan sosial.”

Kriteria Diagnostik NPD Menurut  Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders ( DSM-5 )

Menurut DSM-5, untuk seseorang dapat didiagnosis menderita NPD, mereka harus memenuhi setidaknya lima dari sembilan kriteria berikut ini:

1. Mempunyai rasa gradiosistas atas pentingnya diri sendiri.

2. Terobsesi pada impian mengenai kesuksesan, kekuatan, kecantikan, atau cinta yang sempurna.

3. Meyakini bahwa dirinyaspesial” dan hanya dapat dimengerti oleh orang-orang yang berkelas tinggi.

4. Membutuhkan pujian dan kekaguman secara berlebihan.

5. Merasa memiliki hak lebih dalam berbagai situasi.

6. Bersikap mengeksploitasi saat berinteraksi dengan orang lain.

7. Kurang memiliki rasa empati terhadap emosi dan kebutuhan orang lain.

8. Merasa iri kepada orang lain atau menganggap orang lain merasa iri terhadap dirinya.

9. Menampilkan sikap yang angkuh dan sombong.

Penting untuk dicatat bahwa tidak semua individu yang menunjukkan sifat narsis memiliki NPD. Diagnosis ini hanya bisa dibuat jika pola perilaku tersebut bersifat tetap, kaku, dan menyebabkan masalah yang serius pada fungsi sosial dan pekerjaan.

Faktor Penyebab Narcissistic Personality Disorder ( NPD )

1. Pengalaman di Masa Kecil

Menurut Jurnal Journal of Personality Disorders, cara pengasuhan yang ekstrem, baik yang terlalu memuji maupun yang mengabaikan, dapat memengaruhi perkembangan NPD. Ketika anak selalu dipuji mereka menciptakan identitas yang bergantung pada penerimaan orang lain. Sebaliknya, jika anak diabaikan atau dihina, mereka mengembangkan narsisme untuk menutupi luka batin.

2. Trauma Emosional

Studi Ronningstam (2005) menunjukkan bahwa banyak orang dengan NPD memiliki pengalaman traumatis dalam hubungan, termasuk penolakan, rasa malu yang berkepanjangan, atau kehilangan orang yang penting.

3. Aspek Neurobiologis

Riset neuroimaging (Schulze et al. , 2013) menunjukkan adanya perbedaan dalam aktivitas di bagian otak yang terkait dengan empati dan pengelolaan emosi pada orang dengan NPD.

Narcissistic Personality Disorder (NPD) dalam Sudut Pandang Neurosains

Neurosains memberikan wawasan bahwa NPD tidak hanya berhubungan dengan sikap atau moral, tetapi juga melibatkan cara otak kita menangani emosi, empati, dan harga diri. Pola pikir dan perilaku dari narsistik mencerminkan cara saraf bekerja yang terbentuk sejak masa awal kehidupan, yang dipengaruhi oleh pengalaman interaksi dan pengelolaan emosi.

1. Otak dan Empati pada NPD : Bagian otak yang berperan

Penelitian menggunakan neuroimaging (fMRI) menunjukkan bahwa orang yang memiliki NPD menunjukkan aktivitas yang rendah di bagian-bagian otak yang berkaitan dengan empati, seperti:
  • Anterior Insula kesadaran emosi dan empati emosional

  • Anterior Cingulate Cortex (ACC) pengelolaan emosi dan reaksi terhadap penderitaan orang lain

  • Medial Prefrontal Cortex (mPFC) memahami sudut pandang orang lain (theory of mind)

Sebuah penelitian oleh Schulze et al. (2013) menunjukkan bahwa ketika diminta untuk memikirkan perasaan orang lain, seseorang dengan NPD menunjukkan tingkat aktivasi empati yang lebih rendah dibandingkan dengan kelompok kontrol.

2. Sistem Penghargaan Otak dan Kebutuhan untuk Dipuji Peranan Dopamin

Otak memiliki mekanisme penghargaan yang didasarkan pada dopamin, terutama pada: Striatum Ventral, Nucleus Accumbens. Dalam kasus individu dengan NPD, Pujian, status, dan kekaguman dapat menyebabkan peningkatan dopamin yang signifikan.

Penelitian oleh Cascio et al. (2015) mengungkapkan bahwa pujian sosial mengaktifkan sistem penghargaan pada orang narsistik lebih intens daripada pada individu yang tidak narsistikAkibatnya, tanpa pengakuan, otak merasakanpenurunan penghargaan” yang bisa menjadi ancaman psikologis.

Bukti Jurnal Ilmiah pada Narcissistic Personality Disorder (NPD)

1. Aktivitas Otak dan Empati pada NPD

Empati, atau kemampuan untuk merasakan dan mengerti perasaan orang lain, sering kali terganggu pada seseorang dengan NPD. Penelitian menunjukkan bahwa struktur serta fungsi bagian-bagian otak yang berperan dalam empati berbeda antara individu dengan sifat narsistik tinggi dan mereka yang memiliki kesehatan mental yang baik.

Fan et al. (2011) mengungkapkan bahwa orang-orang dengan tingkat narsisme yang tinggi memperlihatkan aktivitas otak yang rendah di bagian-bagian yang berhubungan dengan empati, seperti anterior insula (AI) dan anterior cingulate cortex (ACC) ketika diminta untuk menunjukkan empati melalui stimulasi wajah emosional. Hal ini diduga menghambat kemampuan mereka untuk berbagi emosi secara efektif. Baca Jurnalnya => Jurnal Rujukan

2. Struktur Otak: Hubungannya dengan Ciri Narsistik

Penelitian oleh Nenadić dan rekan-rekan (2021) menunjukkan bahwa ada hubungan antara tingkat narsisme dan perubahan volume di area prefrontal cortex (PFC) dan insula, termasuk bagian medial dan ventromedial PFC, orbitofrontal cortex (OFC), dan anterior cingulate cortex. Wilayah ini berperan dalam pengaturan emosi, refleksi diri, dan penilaian sosial. BACA JURNAL => KLIK LINK INI

Studi lainnya dengan menggunakan Diffusion Tensor Imaging (DTI) menemukan bahwa integritas koneksi frontostriatal, yang merupakan jalur saraf yang menghubungkan pengolahan diri dengan penghargaan, lebih rendah pada orang-orang dengan ciri narsistik yang menonjol

BACA JURNAL => KLIK LINK INI

Ada perbedaan dalam anatomi dan konektivitas otak pada individu yang narsistik, terutama di area yang mengatur hubungan antara diri dan penghargaan serta fungsi sosial.

Post a Comment

Followers