Istilah dalam narsisme dan Narcissistic Personality Disorder (NPD) sering kali digunakan dalam percakapan sehari-hari. Individu yang suka menampilkan diri di sosial media, senang mendapat pujian, atau tampak terlalu percaya pada diri, sering kali langsung dijuluki “narsis” atau bahkan dianggap “menderita NPD. ” Namun, secara psikologis, narsisme sebagai sifat kepribadian yang berbeda dengan NPD sebagai gangguan kepribadian yang klinis.
Kekeliruan ini tidak hanya membawa stigma, tetapi juga membuat kita kesulitan untuk memahami kondisi psikologis orang lain secara menyeluruh. Dalam artikel ini akan menjelaskan dengan jelas perbedaan antara sifat narsis (narcissistic traits) dan Gangguan Kepribadian Narsistik (NPD), sehingga kita bisa lebih memahami dalam menilai diri sendiri dan orang lain.
Apa itu Narsis ?
Narsisme merujuk kepada karakteristik atau sifat kepribadian yang menunjukkan minat yang kuat terhadap diri sendiri, kebutuhan untuk mendapatkan pengakuan, serta tingkat kepercayaan diri yang tinggi. Dalam konteks psikologi kepribadian, ini dikenal sebagai ciri-ciri narsistik. Ciri tersebut tidak dianggap sebagai gangguan kepribadian apabila:
- Hanya terlihat dalam situasi tertentu
- Tidak mengakibatkan gangguan fungsi yang signifikan
- Individu yang narsisme masih memiliki kemampuan untuk menunjukkan empati dan menjalin hubungan sosial yang sehat.
Beberapa contoh ciri narsis normal meliputi:
- Keinginan untuk menerima perhatian atau pujian.
- Persepsi bahwa diri pantas dihargai.
- Merasa bangga dengan pencapaian pribadi.
Pengertian Narcissistic Personality Disorder
Berdasarkan edisi kelima dari Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5) yang diterbitkan oleh American Psychiatric Association (APA, 2013), Gangguan Kepribadian Narsisistik (NPD) termasuk dalam kategori gangguan kepribadian dari Cluster B.
Menurut DSM-5, NPD didefinisikan sebagai:
“A pervasive pattern of grandiosity (in fantasy or behavior), need for admiration, and lack of empathy, beginning by early adulthood and present in a variety of contexts.”
“Pola perilaku yang menetap di mana seseorang merasa dirinya sangat hebat, sangat membutuhkan pujian dan pengakuan, serta kurang mampu memahami perasaan orang lain. Pola ini biasanya mulai terlihat sejak usia dewasa muda dan muncul dalam berbagai situasi kehidupan, seperti dalam hubungan, pekerjaan, maupun lingkungan sosial.”
BACA JUGA ARTIKEL : Penjelasan Narcissistic Personality Disorder
Perbedaan antara Narsisme dan Narcissistic Personality Disorder
|
Keterangan |
Narsisme |
NPD |
|
Tingkat Keparahan |
Ringan Hinga sedang,
masih fleksibel |
Berat, kaku,
menetap cukup lama |
|
Dampak Terhadap
kehidupan |
Tidak mengganggu
hubungan dan pekerjaan secara signifikan |
Merusak hubungan,
memicu konflik |
|
Empati |
Masih bisa
berempati dan peduli |
Empati sangat rendah,
sering kali hanya
pura-pura |
|
Respon terhadap
kritik |
Bisa tersinggung,
tetapi masih mampu refleksi diri |
Sangat defensif,
marah, merendahkan orang
lain |
|
Kesadaran diri |
Bisa menyadari
kekurangannya |
Hampir tidak pernah merasa dirinya berasalah. |
Teori dan Penelitian Akademis
Bijak dalam memahami, Hati-hati memberi label
- Menilai orang lain dengan lebih adil
- Menjadi lebih peka terhadap kesehatan mental kita sendiri
Post a Comment