bTAdcGyjDYctOAregRSyJNQ4u84UQ71qfMmtpvCa

Self Healing: Saat Tubuh Lebih Jujur daripada Pikiran

mindfulness, self-healing, mental wellness, Anxiety disorder, trauma.

Di zaman sekarang yang serba cepat, banyak orang menghadapi stres, kecemasan, dan beban hidup sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Riset mengenai self healing, proses pemulihan diri dengan cara yang lebih bersifat internal tanpa bergantung sepenuhnya pada perawatan medis semakin meningkat. Namun, di balik fenomena ini terdapat makna yang lebih dalam: terkadang tubuh kita memberikan sinyal yang lebih jujur dan langsung mengenai kondisi mental kita dibandingkan dengan pikiran yang sering kali terjebak dalam logika, penyangkalan, atau penjelasan yang berlebihan. Artikel ini akan mengulas bagaimana tubuh berperan sebagai pengukur emosi yang tulus dan mengapa pendekatan self-healing yang menyeluruh termasuk aspek pikiran, tubuh, dan perasaan amat penting untuk mencapai kesejahteraan yang sejati.

1. Tubuh Sebagai Infrastruktur Emosi

Sering kali saat menghadapi stres, kecemasan, atau emosi kuat lainnya, tubuh menunjukkan sinyal melalui sensasi yang nyata: detak jantung yang cepat, otot yang tegang, perut yang terasa "terkunci", atau pernapasan yang menjadi cepat. Fenomena ini lebih dari sekadar kiasan; penelitian di bidang emosi yang 'embodied' mengungkapkan bahwa emosi sangat terhubung dengan sensasi fisik, dan interoception (kesadaran terhadap sinyal tubuh internal) memiliki peranan penting dalam bagaimana seseorang mengalami emosi.

Studi klasik mengenai peta emosi dalam tubuh manusia menunjukkan bahwa perasaan emosional terletak di berbagai tempat yang berbeda, kemarahan dirasakan di area dada atau rahang, sementara kesedihan mungkin terasa di dada atau tenggorokan, menunjukkan cara tubuh langsung merasakan emosi.

Pengetahuan ini menggambarkan sebuah konsep yang krusial: tubuh kita sering merasakan emosi yang tidak kita sadari atau pilih untuk tidak akui melalui pikiran. Saat pikiran berusaha untuk menolak atau mencari alasan, tubuh tetap merasakan dan mengekspresikan apa yang sebenarnya terjadi secara fisik.

2. Pikiran yang Menunda, Tubuh yang “Membebankan”

Pikiran manusia dikenal cerdas dalam menolak, memberikan alasan, dan menjelaskan. Saat kita menghadapi tekanan yang berat, pikiran kita sering berujar, "Ini tidak masalah," atau "Aku baik-baik saja," meskipun tubuh sudah memberikan sinyal fisik yang jelas seperti napas yang cepat, otot yang tegang, atau kesulitan untuk tidur.

Fenomena ini bisa jadi disebabkan karena sistem saraf kita responsif sebelum pikiran sadar kita memahami keadaan emosional tersebut. Teori klasik seperti teori James-Lange berpendapat bahwa perubahan fisik yang terjadi di dalam tubuh sebenarnya berkontribusi pada pembentukan pengalaman emosional, bukan sebaliknya.

Artinya, tubuh sering kali menyampaikan "pesan yang sebenarnya" mengenai keadaan emosional kita sebelum pikiran kita yang sadar mengakui atau memahami.

3. Apa Itu Self Healing?

Self healing merupakan suatu cara untuk menyembuhkan diri dengan memanfaatkan sistem dalam tubuh dan pikiran guna mencapai keseimbangan dalam emosi dan fisik. Ini bukan hanya sekadar konsep yang sering muncul di media sosial atau buku-buku pengembangan diri, tetapi juga telah dipelajari dalam penelitian ilmiah sebagai teknik untuk mengatasi stres dan emosi.

Dalam beberapa penelitian menjelaskan bahwa rangkaian Teknik self healing, seperti Teknik relaksasi, touch healing, atau praktik tertentu yang melibatkkan perhatian terhadap tubuh, dapat membantu meredakan kecemasan dan stress.

Untuk lebih mengetahui tentang Self Healing, bisa baca " Panduan Lengkap Self Healing " di artikel berikut ini >>> Panduan Lengkap Self Healing

4. Mengapa Tubuh LebihBenardaripada Pikiran?

Dalam tubuh manusia memiliki sistem saraf otonom serta mekanisme fisiologis yang secara otomatis menanggapi stres. Saat mengalami tekanan atau bahaya, hormon stres seperti adrenalin dan kortisol dilepaskan, proses ini berlangsung sebelum kita bahkan menyadari secara kognitif situasi yang ada.

Saat pikiran seseorang bisa menunda atau menipu diri, maka tubuh :
  • Merespon tanpa kompromi terhadap stress fisik dan emosi
  • Memberi sinyal yang dapat diukur ( contoh melalui napas, otot, dan denyut jantung )
  • Memberikan data objektif yang tidak mungkin dibantah pikiran

Inilah penyebabnya kenapa banyak sekali praktik Self-healing berfokus kepada tubuh, seperti pernapasan dalam, meditasi untuk menenangkan system saraf, relaksasi otot, ataupun kesadaran terhadap sensasi fisiologis merpuakan cara untuk membaca Bahasa tubuh yang sering tidak disadari oleh pikiran

Post a Comment

Followers