Di zaman informasi yang bergerak cepat, banyak orang mengalami kelelahan mental. Pikiran terus berputar tanpa henti, sulit untuk berhenti menganalisis, yang kemudian menimbulkan perasaan cemas. Banyak yang akhirnya berpikir, “Aku mengalami anxiety. ”
akan tetapi, tidak semua perasaan cemas bersumber dari gangguan kecemasan. Dalam banyak situasi, apa yang terjadi adalah overthinking yang berlebihan, sebuah kondisi di mana pikiran terlalu aktif, tetapi sering dianggap sebagai kecemasan.
Dalam artikel ini, kita akan membahas tujuh tanda overthinking yang sering dianggap sebagai anxiety, sehingga Anda bisa lebih memahami apa yang sebenarnya terjadi pada diri Anda.
1. Pikiran Terus-Menerus Aktif, Tanpa Perasaan takut yang jelas.
Salah satu ciri utama dari overthinking yang diakui secara klinis di dalam literatur adalah rumination, yaitu suatu pola berpikir yang mengulang isu atau pengalaman negatif tanpa mencapai solusi. Penelitian dalam bidang psikologi membuktikan bahwa rumination ditandai oleh pemikiran negatif yang bersifat repetitif, yang sulit untuk dihentikan dan berkenaan dengan masalah mental, seperti depresi dan kecemasan, tetapi tidak hanya terbatas pada ketakutan akut yang biasanya muncul pada gangguan kecemasan. ( Thinking too much: rumination and psychopathology )
Intinya adalah :
Overthinking atau Rumination : Merupakan aktivitas kognitif yang bersifat repetitif, akan tetapi tidak disertai dengan reaksi fisiologis ketakutan yang jelas, seperti detak jantung yang cepat, gemetar, atau serangan panik.
Anxiety : Melibatkan reaksi emosional seperti ketakutan atau kekhawatiran yang signifikan.
Penting untuk membedakan antara keduanya: rumination dapat muncul meskipun tidak ada ancaman nyata, sementara anxiety biasanya terkait dengan rasa takut atau kekhawatiran tentang masa depan.
2. Sering Mengingat Masa Lalu bukan Memikirkan Masa Depan
Dalam literatur psikologi, terdapat perbedaan antara rumination (yang berhubungan dengan fokus pada masa lalu), dan worry (yang lebih kepada masa depan). Keduanya termasuk dalam kategori “repetitive negative thinking (RNT)”, tetapi rumination lebih sering berputar pada argumen atau pertanyaan yang tidak ada akhirnya mengenai pengalaman yang sudah berlalu, ini merupakan bentuk pemikiran berlebihan.
Jika pikiran Anda lebih sering kembali kepada pertanyaan “apa yang sudah terjadi? ” ketimbang “apa yang akan terjadi? ”, kemungkinan besar ini menunjukkan kecenderungan pada overthinking atau rumination daripada anxiety.
3. Gejala Fisik Ringan namun Ada Dampak Psikologis
Overthinking atau rumination itu sendiri bukanlah diagnosis resmi dalam DSM-5 ( diagnostic statistical manual of mental disorders ) untuk gangguan mental, akan tetapi merupakan mekanisme transdiagnostik, model psikologis yang muncul dibanyak kondisi, termasuk anxiety, depresi, PTSD ( post traumatic stress disorder ), serta gangguan stres lainnya.
( Jurnal : Rumination and psychopathology )
Rumination adalah sebuah proses kognitif yang dapat memperkirakan onset dan keberlanjutan masalah emosional seperti anxiety. dengan kata lain, overthinking dapat berdampak pada suasa hati, tidur, atau fokus tanpa adanya gejala fisiologi anxiety yang signifikan.
4. Sulit Dalam Mengambil Keputusan
Studi psikologi menunjukkan bahwa overthinking atau rumination berkaitan dengan kesulitan membuat keputusan karena individu menghabiskan waktu yang lama menganalisis hasil tanpa mengambil langkah konkrit. Temuan ini juga muncul dalam penelitian yang melibatkan mahasiswa, yang menunjukkan adanya hubungan penting antara berpikir berlebihan dan kesulitan dalam mengambil keputusan mengenai karier. ( Corelation Of Overthinking Toward Career Decision Among College Students )
Bahkan keputusan yang sepele pun dapat terasa membebani karena cara berpikirnya tidak hanya terfokus pada hasil, melainkan juga menganalisis secara mendalam semua kemungkinan tanpa menemukan solusi.
5. Muncul Terutama Saat Sendiri dan Diam
Penelitian mengenai pengalaman pribadi kerkait rumination dan worry membuktikan bahwa kedua hal ini sering terjadi saat keadaan tenang, seperti sebelum tidur atau ketika tidak ada gangguan dari luar.
Hal ini sesuai dengan laporan dari individu yang merasa kesulitan untuk menghentikan siklus berpikir ketika mereka sendirian, daripada saat mereka berada dalam keadaan sibuk.
Ilmu Psikologi : Tidak seperti reaksi panik pada anxiety yang dapat muncul secara tiba-tiba dalam situasi sosial atau ketika terancam, rumination lebih sering muncul ketika perhatian diarahkan ke dalam diri.
6. Aku Baik-Baik saja, Akan tetapi Pikiran Tidak Tenang
Peristiwa ini sangat sesuai dengan tulisan-tulisan dalam psikologi yang mengkaji rumination sebagai pola berpikir yang berulang, sulit untuk dihentikan, dan melelahkan secara mental meskipun aktivitas sehari-hari tetap dapat dilakukan.
Banyak individu yang menjalani rumination merasa bahwa fungsinya masih berjalan "normal", namun tingkat kualitas hidup dan kesejahteraan mental mereka menurun akibat pikiran yang terjebak dalam siklus negatif.
Post a Comment