bTAdcGyjDYctOAregRSyJNQ4u84UQ71qfMmtpvCa

Otak Manusia, Sensasi, dan Perebutan Perhatian

Anxiety, Trauma, Mindufness, self-healing, mental wellness, clien story

Kenapa seseorang cendrung mencari sensasi demi untuk mendapatkan perhatian ?

Di balik setiap video yang menjadi viral, pertikaian di publik, tindakan yang ekstrem, serta keputusan yang diambil tanpa pertimbangan matang, ada satu tema umum yang sering tidak disadari: otak manusia dibuat untuk mengejar sensasi. Sensasi yang bisa berupa kejutan, emosi yang mendalam, konflik, atau pengalaman yang kuat menjadi jalan utama untuk menarik perhatian, baik dari diri sendiri dan juga dari orang-orang di sekitar kita.

Perhatian bukan hanya kebutuhan sosial yang muncul di era modern ini, tetapi juga merupakan kebutuhan biologis dan psikologis yang telah ada sejak awal manusia ada. Otak kita menyadari bahwa hal-hal yang “menyentuh emosi” jauh lebih signifikan dibandingkan dengan yang “hanya sekadar fakta”. Inilah alasannya mengapa orang sering lebih tertarik pada drama ketimbang data, konflik dibandingkan dengan ketenangan, dan sensasi dibandingkan kedalaman makna.

Artikel ini akan mengupas bagaimana dan mengapa otak manusia menginginkan sensasi, hubungan yang erat antara sensasi dan perhatian, serta dampaknya terhadap perilaku individu dan masyarakat di zaman sekarang.

Otak dan Mekanisme Mencari Sensasi

Dalam perspektif neuropsikologi, fungsi otak manusia didasarkan pada prinsip penghargaan dan hukuman. Sistem ini didominasi oleh dopamin, yaitu neurotransmitter yang berfungsi dalam dorongan, prediksi kebahagiaan, dan pencarian pengalaman baru.

Saat individu merasakan sensasi entah yang menggembirakan atau yang menegangkan otak memproduksi dopamin. Proses ini menimbulkan perasaan “hidup”, “berarti”, dan “berharga”. Dengan demikian, otak menyadari bahwa sensasi ialah sesuatu yang layak untuk dikejar.

Permasalahannya adalah otak tidak membedakan antara sensasi positif dan negatif secara moral, tetapi berdasarkan tingkat intensitasnya. Perhatian yang muncul dari ketegangan, kontroversi, atau perilaku yang ekstrem sering kali memberikan kepuasan yang sama bagi otak seperti perhatian yang muncul dari pencapaian atau kontribusi yang berarti.

Itulah sebabnya seseorang bisa terus mengulangi perilaku merusak, selama perilaku tersebut masih menarik perhatian dan memicu respons emosional dari orang di sekitarnya.

Sensasi Ialah Sebagai Jalan Singkat Menuju Perhatian

Perhatian ialah sumber yang terbatas. Dalam interaksi sosial, mereka yang berhasil menarik perhatian sering kali dianggap “ada”, “penting”, dan “bernilai”. Sejak kecil, otak manusia telah belajar bahwa:
  • Menangis bisa mendapatkan perhatian
  • Marah sama dengan mendapat respon
  • Membuat kebisingan itu bisa dilihat banyak orang dan menjadi sorotan
  • Berbeda itu dikenali banyak orang
Sensasi menjadi cara tercepat untuk menembus keterbatasan perhatian itu. Jika dibandingkan dengan proses panjang dalam membangun keterampilan, karakter, atau kedalaman intelektual, sensasi memberikan hasil yang cepat.

Di zaman media sosial, mekanisme ini mendapatkan penguatan yang sangat besar. Algoritma pada platform digital cenderung lebih mengutamakan konten yang memunculkan emosi yang kuat: kemarahan, ketakutan, kejutan, atau kebahagiaan. Otak manusia yang sudah peka terhadap sensasi akhirnya terjebak dalam siklus:

Membuat sensasi untuk mendapatkan perhatian lawan bicara atau lawan jenis, selanjutnya jika perhatian sudah didapat maka secara otomatis sudah mendapatkan pengakuan dan pada akhirnya ini akan terus dilakukan secara berulang agar mendapatkan perhatian dan pengakuan.

Dari Validasi Menuju Ketergantuangan

Saat seseorang mulai mengandalkan pengakuan dari orang lain sebagai cara untuk membuktikan diri, mereka secara perlahan kehilangan kemampuan untuk menemukan arti dari dalam diri sendiri. Pikiran terbiasa mencari dorongan dari lingkungan sekitar, alih-alih melakukan refleksi pribadi. Dalam waktu yang cukup lama, hal ini dapat memunculkan masalah psikologis seperti:
  • Ketergantungan pada pengakuan sosial
  • FOMO
  • Overstimulasi emosional
  • Kesulitan untuk menikmati momen tenang
Otak yang secara terus menerus terpapar sensasi akan mengalami penurunan pada ambang rangsang, dengan kata lain, hal-hal sederhana tidak lagi memberikan cukup daya Tarik. Sensasi harus semakin besar, lebih ekstrem dan lebih kontroversial. Di sinilah fenomena eskalasi muncul: konten yang semakin provokatif, perilaku yang semakin berisiko, dan konflik yang semakin dipertontonkan.

Sensasi, Ego, dan Identitas

Dari sudut pandang psikologi, sensasi sangat terkait dengan ego dan konsep diri. Ketika seseorang tidak memiliki pemahaman diri yang kuat, perhatian dari orang lain menjadi cara utama untuk mengenali eksistensinya.

" Jika saya diperharikan, berarti saya ada "

Permasalahannya, identitas yang didasarkan pada sensasi itu rentan. Saat perhatian berkurang, muncul perasaan cemas, hampa, bahkan depresi. Akibatnya, otak memacu pencarian sensasi baru sebagai pengganti.

Proses ini menggambarkan mengapa banyak orang merasa kehabisan energi mental meskipun aktif dan terlibat dalam kegiatan sosial. Mereka yang dikejar bukanlah makna hidup, tetapi rangsangan.

Kesadaran : Dari Sensasi Menuju Makna

Kesadaran memberi kemampuan bagi kita untuk bertanya:
  • Apakah ini suatu kebutuhan, atau hanya dorongan sesaat ?
  • Apakah perhatian ini membangun, atau cuma hanya memuaskan ego saja?
  • Apakah sensasi ini memberikan saya makna, atau hanya kepuasan diri ?
BACA ARTIKEL PENUNJANG = MINDFULNESS

Kesimpulan : Otak manusia sejatinya diciptakan untuk menginginkan sensasi, tetapi bukan berarti manusia harus terjebak di dalamnya. Sensasi berfungsi sebagai alat, bukan sebagai tujuan utama. Ketika sensasi menjadi satu-satunya cara untuk menarik perhatian, manusia akan kehilangan, ketenangan, dan arti dari kehidupan.

Dengan memahami cara otak berfungsi, kita mendapatkan kebebasan untuk memilih: terus menerus mencari sensasi untuk mendapatkan perhatian, atau menciptakan kesadaran untuk mencapai makna. Pilihan ini yang membedakan antara hidup yang reaktif dan hidup yang penuh kesadaran.

=====================================================================
Jurnal : Sensation-seeking: Dopaminergic modulation and risk for psychopathology
Agnes Norbury & Masud Husain (2015) — Behavioural Brain Research

Pembahasan : Mencari sensasi dapat menjadi berisiko karena menjadikan otak terbiasa untuk mencari pengalaman yang sangat mengesankan, sehingga pengalaman biasa tidak lagi merasa cukup, dan hal ini dapat menyebabkan perilaku yang berisiko, ketergantungan, serta hilangnya kontrol diri.

Jika seseorang sering :
  • Mencari sensasi
  • drama
  • konflik
  • perhatian
  • dan rangsangan ekstrem
Maka otak akan menyetel ulang standar cukupnya. Akibatnya adalah hal biasa terasa membosankan, ketenangan terasa kosong, dan hidup tanpa ada sensasi menjadi tidak hidup.

Orang-orang dengan Sensation Seeking tinggi cendrung
  • implusif ( bertindak terlebih dulu, mikir belakangan )
  • Sulit puas
  • Sensasi harus semakin besar
  • Sulit menikmati hidup sederhana
  • Ketergantungan pada validasi eksternal
=====================================================================
BACA JUGA : MENTAL WELLNESS

Post a Comment

Followers