Dalam pengalaman saya menangani pasien di lapangan, saya pernah bertemu dengan seorang perempuan berusia sekitar 30-an. Sebut saja namanya Anis.
Anis bekerja sebagai tenaga tata usaha (TU) di salah satu sekolah di Kota Bandung. Dari luar, kehidupannya terlihat biasa saja. Ia bekerja, menjalani aktivitas sehari-hari, dan berusaha tetap menjalani kehidupannya seperti biasa.
Namun ketika mulai bercerita, saya menemukan bahwa di balik aktivitas sehari-harinya terdapat beban mental yang sangat berat.
Anis sering mengalami sesak napas, bahkan pada saat sedang tidak melakukan aktivitas berat. Sesaknya justru sering muncul ketika ia sedang diam, sendirian, atau melamun.
Setelah saya menggali lebih dalam mengenai kondisi yang dialaminya, ternyata persoalannya bukan hanya tentang sesak napas.
Ada banyak hal yang selama ini ia simpan sendiri.
Salah satunya adalah persoalan hubungan.
Anis pernah menjalani hubungan dengan seorang laki-laki selama kurang lebih dua tahun. Hubungan tersebut akhirnya berakhir. Setelah itu ia mencoba membuka hati kembali. Namun beberapa kali ketika ada laki-laki yang mendekat dan hubungan mulai terlihat serius, tiba-tiba hubungan tersebut kembali gagal.
Di usianya yang sudah memasuki kepala tiga, tentu muncul pertanyaan mengenai pernikahan.
“Apakah saya akan menikah?”
“Kenapa setiap kali ada yang serius selalu pergi?”
“Apakah ada yang salah dengan diri saya?”
Pertanyaan-pertanyaan tersebut akhirnya tidak hanya muncul sesekali, Pikiran itu terus berputar. Di sisi lain, Anis juga membawa persoalan keluarga yang jauh lebih dalam. Ayahnya telah meninggal dunia.
Setelah kehilangan ayah, muncul keyakinan dalam dirinya bahwa ia telah gagal menjadi seorang kakak yang mampu menggantikan sosok ayah bagi adik-adiknya.
Ia merasa adik-adiknya tidak terlalu memikirkan ibu dan kondisi keluarga. Akhirnya, ia merasa harus menjadi orang yang memikirkan ibu, ekonomi keluarga, dan masa depan adik-adiknya.
Dengan kata lain, Anis bukan hanya sedang memikirkan dirinya sendiri. Ia merasa harus memikirkan semua orang. Tentang pasangan, tentang pernikahan, tentang ibu, tentang adik-adiknya, tentang ekonomi, tentang masa depan, tentang kematian ayahnya.
Semua pikiran tersebut bertemu dalam satu kepala.
Dan ketika pikiran tidak pernah berhenti, tubuh pun akhirnya ikut bereaksi. Pada satu titik dalam proses pendampingan, saya menemukan sesuatu yang jauh lebih serius, anis ternyata pernah memiliki pikiran untuk mengakhiri hidupnya.
Dalam sebuah proses pendampingan ketika ia berada dalam kondisi trance dan membayangkan sosok ayahnya berada di hadapannya, emosinya tiba-tiba pecah. Ia menangis sejadi-jadinya, bukan sekadar menangis karena rindu, ia mengatakan bahwa dirinya sudah sangat lelah dan ingin ikut bersama ayahnya.
Di titik inilah saya menyadari bahwa apa yang dialami Anis tidak tepat jika hanya disebut sebagai overthinking biasa. Ada kehilangan, ada rasa bersalah, ada tekanan keluarga, ada kecemasan mengenai masa depan, ada luka akibat hubungan yang gagal, dan ada kelelahan emosional yang sudah menumpuk cukup lama.
Kasus seperti ini membuat saya semakin memahami bahwa terkadang seseorang tidak benar-benar ingin mengakhiri hidupnya, ia hanya ingin mengakhiri rasa sakit yang sedang dialaminya.
Namun tentu saja, ketika seseorang sudah memiliki pikiran untuk mengakhiri hidup, kondisi tersebut harus dipandang serius dan membutuhkan penanganan yang tepat.
Lalu, apa sebenarnya yang terjadi di dalam pikiran Anis?
Mengapa seseorang bisa terus memikirkan sesuatu sampai tubuhnya ikut merasakan dampaknya?
Apa penyebab overthinking?
Apa ciri-ciri overthinking yang perlu kita waspadai?
Dan yang paling penting, bagaimana cara mengatasi overthinking sebelum pikiran tersebut berkembang menjadi beban psikologis yang semakin berat?
BACA JUGA : Ketika Cinta Berubah Menjadi Ketakutan
Apa Itu Overthinking?
Secara sederhana, overthinking dapat dipahami sebagai kondisi ketika seseorang terlalu banyak memikirkan sesuatu secara berulang-ulang, sampai pikiran tersebut justru membuat dirinya semakin lelah.
Dalam dunia psikologi, istilah overthinking sendiri sebenarnya bukan diagnosis klinis. Para peneliti lebih sering menggunakan istilah seperti rumination, worry, atau repetitive negative thinking untuk menggambarkan pola berpikir negatif yang berulang.
Ruminasi biasanya berkaitan dengan kecenderungan terus memikirkan kejadian yang sudah terjadi.
“Kenapa saya melakukan itu?”
“Kenapa dia meninggalkan saya?”
“Seandainya waktu itu saya mengambil keputusan berbeda.”
Sementara worry lebih banyak berorientasi pada masa depan.
“Bagaimana kalau saya tidak menikah?”
“Bagaimana kalau kehidupan saya semakin buruk?”
“Bagaimana kalau saya tidak mampu membahagiakan ibu?”
Keduanya dapat menjadi masalah ketika pikiran tersebut terus berulang tetapi tidak menghasilkan solusi.
Inilah yang terjadi pada banyak orang, mereka sebenarnya ingin menemukan jawaban, tetapi justru terjebak dalam pertanyaan yang sama.
Penelitian mengenai repetitive negative thinking menunjukkan bahwa pola berpikir negatif yang berulang memiliki hubungan dengan berbagai masalah psikologis, termasuk kecemasan dan depresi. Ruminasi juga ditemukan berkaitan dengan munculnya dan bertahannya gejala depresi maupun kecemasan.
Jadi, masalahnya bukan sekadar “terlalu banyak berpikir.”
Masalahnya adalah ketika seseorang kehilangan kemampuan untuk keluar dari putaran pikirannya.
BACA JUGA : Rasa Takut yang Menyamar sebagai Kasih Sayang
Penyebab Overthinking?
Kalau kita melihat kembali kasus Anis, sebenarnya cukup mudah untuk memahami mengapa pikirannya menjadi begitu penuh.
Ada beberapa persoalan besar yang terjadi secara bersamaan.
Kehilangan orang yang dicintai.
Kematian ayah menjadi salah satu titik penting dalam kehidupan Anis. Kehilangan orang tua bukan hanya kehilangan seseorang secara fisik. Bagi sebagian orang, kehilangan tersebut juga berarti kehilangan tempat bergantung, tempat bercerita, figur perlindungan, dan bagian dari struktur keluarga.
Setelah ayahnya meninggal, Anis mulai melihat dirinya sebagai seseorang yang harus mengambil peran lebih besar dalam keluarga.
Di dalam pikirannya muncul keyakinan:
“Saya harus menggantikan ayah.”
Kemudian muncul pertanyaan lain:
“Apakah saya sudah menjadi kakak yang baik?”
“Apakah saya sudah cukup membantu ibu?”
“Kenapa adik-adik saya seperti tidak peduli?”
“Kalau saya tidak membantu, siapa yang akan membantu keluarga?”
Masalahnya, ketika semua pertanyaan tersebut dibebankan kepada satu orang, lama-kelamaan tanggung jawab berubah menjadi tekanan, kegagalan dalam hubungan
Persoalan kedua adalah hubungan percintaan.
Dua tahun bukan waktu yang singkat, ketika sebuah hubungan berakhir, seseorang tidak hanya kehilangan pasangan, ia juga dapat kehilangan gambaran masa depan yang sebelumnya sudah dibangun dalam pikirannya. Mungkin sebelumnya sudah muncul bayangan:
“Suatu hari saya akan menikah dengannya.”
“Suatu hari kami akan membangun keluarga.”
Ketika hubungan itu berakhir, semua gambaran tersebut ikut runtuh. Kemudian ketika beberapa hubungan berikutnya kembali gagal, muncul sebuah pola berpikir:
“Jangan-jangan masalahnya memang ada pada diri saya.”
Ini yang perlu diperhatikan. Satu kegagalan hubungan tidak otomatis berarti seseorang tidak layak dicintai, dua atau tiga kegagalan juga tidak otomatis menjadi bukti bahwa seseorang tidak akan pernah menemukan pasangan. Tetapi ketika pengalaman tersebut terus dipikirkan, otak dapat mulai membangun kesimpulan yang terlalu jauh dari fakta.
Tekanan usia dan pernikahan
Usia 30-an juga dapat menjadi sumber tekanan tersendiri, bukan karena usia tersebut merupakan masalah, tetapi karena lingkungan sering memberikan standar tertentu mengenai kapan seseorang seharusnya menikah, melihat teman sudah menikah, melihat teman sudah memiliki anak, mendengar pertanyaan keluarga, melihat unggahan pasangan di media sosial. Semua itu dapat membuat seseorang membandingkan kehidupannya dengan orang lain.
Kemudian muncul pikiran:
“Kenapa hidup saya belum seperti mereka?” padahal setiap orang mempunyai perjalanan yang berbeda.
Pernikahan bukan kompetisi, hidup bukan perlombaan yang memiliki satu garis finish yang sama untuk semua orang.
BACA JUGA : Covid 19 membuat rejama ini Trauma, sehingga mengalami hal berikut ini
Ciri-Ciri Overthinking
Overthinking sering kali tidak terlihat dari luar, seseorang yang sedang mengalami overthinking masih bisa bekerja, berbicara, tersenyum, bahkan bercanda. Tetapi ketika sendirian, pikirannya mulai bekerja tanpa henti.
Beberapa ciri yang sering muncul antara lain:
- Terus memikirkan kejadian yang sama.
- Memikirkan kesalahan masa lalu berulang kali.
- Terlalu sering membayangkan kemungkinan buruk.
- Sulit mengambil keputusan.
- Selalu membutuhkan kepastian.
- Mudah merasa bersalah.
- Sering menyalahkan diri sendiri.
- Merasa lelah secara mental.
- Sulit menikmati keadaan saat ini.
- Sering membandingkan diri dengan orang lain.
- Merasa masa depan penuh dengan ancaman.
Overthinking dari Perspektif Psikologi
Dalam psikologi, salah satu hal yang menarik untuk diperhatikan adalah cara seseorang memberikan makna terhadap suatu kejadian.
Mari kita lihat kasus Anis.
Faktanya: Hubungannya berakhir, kemudian muncul interpretasi:
“Saya tidak layak dicintai.”
Faktanya: Beberapa hubungan setelahnya tidak berhasil.
Kemudian muncul interpretasi:
“Saya tidak akan pernah mendapatkan pasangan.”
Faktanya: Ayahnya meninggal.
Kemudian muncul interpretasi:
“Saya harus menggantikan ayah sepenuhnya.”
Faktanya: Adik-adiknya tidak banyak membantu keluarga.
Kemudian muncul interpretasi:
“Semua masalah keluarga adalah tanggung jawab saya.”
Perhatikan perbedaannya.
Fakta dan interpretasi bukan sesuatu yang sama. Masalah sering kali menjadi jauh lebih berat ketika interpretasi dianggap sebagai fakta. Karena itu salah satu langkah penting dalam menghadapi overthinking adalah belajar bertanya:
“Apakah ini benar-benar fakta, atau ini hanya kesimpulan yang sedang dibuat oleh pikiran saya?”
Pertanyaan tersebut sederhana, tetapi sangat powerful.
Post a Comment