Banyak orang mengatakan " Aku sudah Ikhlas Ko, Tetapi kenapa yang masih terus teringat ? ", atau " Aku sudah memaafkan ko, tetapi ko perasaannya masih ada rasa sakit ". Sulit untuk move on bukan berarti tanda kamu lemah, bukan juga tanda kurangnya iman atau kurangnya niat. Jika dilihat dari sudut pandang ilmiah dan psikologis, ada mekanisme atau proses tertentu di otak dan emosi yang membuat pengalaman masa lalu terasa seolah masih terjadi saat ini.
Move On itu Bukan Masalah Niat, Tetapi Masalah Sistem Saraf
Banyak dari individu menganggap diri mereka tidak berhasil move on karena merasa tidak cukup kuat, kurang ikhlas, atau kurang berusaha. Padahal, jika dilihat dari perspektif psikologi modern dan neuroscience, proses move on tidak hanya ditentukan ari keinginan, akan tetapi juga oleh keadaan system saraf. Seseorang mungkin memiliki tekad yang tinggi untuk melupakan masa lalu, akan tetapi jika system sarafnya masih berada dalam keadaan terancam, maka melanjutkan hidup akan terasa sangat sulit.
1. Sistem Saraf Lebih Berkuasa dari pada pikiran sadar manusia
Sebagian individu sering kali beranggapan bahwa mereka dipandu oleh proses berpikir yang logis. Namun pada kenyataanya, tbuh dan jaringan saraf dapat merespons lebih cepat dibandingkan dengan pikiran yang disadari. Saat individu menghadapi situasi emosional yang mendalam seperti kehilangan, penolakan, pengkhianatan, ataupun trauma, system saraf akan menyimpan momen tersebut sebagai data keselamatan.
itu artinya, tubuh belajar " Apa yang berbahaya, Apa yang harus di hindari, dan apa yang perlu diwaspadai ". dan inilah penyebab seseorang yang berkata " Aku sudah memutuskan untuk Move On ", namun tubuhnya " Masih tegang, masih mudah cemas, dan masih bereaksi berlebihan ". hal tersebut bukan karena tidak ada niat atau niatnya kurang, akan tetapi karena tubuh masih belum merasa aman.
2. Tiga Mode Sistem Saraf
Dalam ilmu system saraf mengenal dengan " Polyvagal Theory ", manusia hidup dalam tiga kondisi yaitu :
a. Mode Bertahan (Fight / Flight) : Dalam mode ini tubuh manusia dalam kondisi ( Waspada, tegang, mudah marah dan tegang ).
Contoh Move on di Mode Bertahan : Seseorang pernah mengalami pengkhianatan, hubungan yang sudah lama berakhir, akan tetapi setiap kali melihat pasangan orang lain, mendengar cerita tentang komitmen, mendekati hubungan baru, tubuh langsung bereaksi " Jantung berdebar, pikiran curiga muncul, dan emosi naik tanpa sebab ". Secara sadar orang tersebut berkata " Aku sudah move on Ko ", atan tetapi sistem saraf berkata " Ini bahaya, bisa terulang, jangan lengah ". dan pada akhirnya " Sulit percaya, overthinking, dan menarik diri sebelum terluka lagi ".
Ingat, Ini bukan sebuah drama, akan tetapi mode bertahan dari sistem saraf.
b. Mode Beku atau Freeze : Apa yang akan terjadi di mode ini ? Model beku akan terjadi jika sistem saraf merasa : " Aku tidak bisa melawan, dan tidak juga bisa lari ", akibatnya tubuh memilih strategi " Menutup Emosi, mematikan rasa, dan menarik diri dari kehidupan ". dilihat dari luarnya tenang, tetapi didalam emosi berhenti.
Contoh dari Mode Beku : Seseorang yang mengalami kehilangan seperti orang tua, pasangan atau lain sebagainya, ia berkata " Aku sudah ikhlas, sudah tidak sedih lagi ", namun pada kenyataanya " Sulit merasa bahagia, hidup terasa datar, dan tidak punya gairah ". ini bukanlah move on, akan tetapi emosi yang membeku. Masa lalu tidak dilepaskan, hanya dikunci didalam tubuh.
c. Mode Aman ( Regulated ) : Mode ini Kondisi idealnya untuk Move On
Dalam mode aman, sistem saraf berada dalam kondisi : " Tenang, Fleksibel, dan tidak reatif berlebihan ". hal ini bukan berati tidak punya luka, hanya saja luka tidak mengendalikan reaksi.
Contoh dari Mode aman : Seseorang yang masih mengingat hubungan lamanya, kesalahanya, dan kegagalanya, namun tidak lagi sesak, tidak lagi marah berlebihan, dan bisa mengambil pelajaran tanpa menghakimi diri.
Mengapa Tubuh Menolak untuk Move On ?
Dari perspektif fisik atau tubuh, pengalaman traumatis justru tampak lebih akrab dibandingkan dengan masa depan yang belum pasti. Tubuh beranggapan : " Aku memahami rasanya sakit, Aku tahu bagaimana cara untuk bertahan dalam situasi itu, dan hal yang baru mungkin tidak aman ". Akibatnya, meskipun penuh dengan rasa sakit, tubuh lebih memilih untuk tetap pada pola lama karena terasa lebih dapat di prediksi.
Inilah yang menjelaskan mengapa seseorang cendrung terus mengulangi hubungan yang sama, terjebak dalam siklus emosi yang sama, sulit untuk benar-benar melepas masa lalunya, bukan karena bodoh ataupun lemah, akan tetapi karena tubuh memilih untuk tetap pada yang aman, bukan yang bermanfaat bagi Kesehatan.
Move On gagal karena pendekatan yang salah
Banyak individu mencoba untuk move on dengan cara : " Memaksa berpikir positif, Menyibukkan diri, menghindari emosi, dan menekan ingatan ". Pendekatan seperti ini bekerja pada level pikiran, akan tetapi tidak menyentuh system saraf. Akibatnya " Pikiran berkata sudah selesai, namun tubuh berkata belum aman ". Ingat! Selamat tubuh merasa belum aman, maka ingatan lama akan terus muncul sebagai peringatan.
Penyembuhan dimulai dari rasa aman, buka dari Ke ikhlasan
Kesalahan individu yang sering dilakukan untuk bisa move on adalah memaksa dirinya untuk " Ikhlas, Memaafkan, dan melupakan ". Padahal, secara bilogis tubuh manusia perlu merasakan aman terlebih dahulu, baru emosi bisa dilepaskan. Rasa aman tidak dibangun lewat logika, akan tetapi lewat " Religi, Lingkungan Yang suportif, relasi yang tidak mengancam, dan proses Bawah sadar.
BACA JUGA : Sembuh dari Trauma Listik
Post a Comment