bTAdcGyjDYctOAregRSyJNQ4u84UQ71qfMmtpvCa

Road Traffic Accident bisa menyebabkan Trauma yang menyiksa

Client Story, Mindfulness, Self-Healing, Mental Wellness, Anxiety Disorder, Staycation & Healing Trip

Trauma Tidak Selalu Tentang Kejadian Besar ( Inilah Catatan Seorang Terapis di ruang praktik )

Lagi lagi saya harus berurusan dengan trauma klien. 

Klien saya kali ini sebut saja Ibu Linda. Beliau berasal dari keluarga berada, keluarga besar yang bergerak di bidang pertambangan batu bara. Hampir semua masalah keluarga mereka pernah saya tangani, termasuk trauma yang dialami Ibu Linda ini

Karena rapport sudah terbentuk dengan sangat baik, saya tidak perlu lagi membangun kedekatan dari nol. Saya juga tidak perlu repot mencari gaya belajar atau kepribadian klien. Kami sudah saling percaya. Dan itu mempermudah segalanya.

Saya langsung masuk ke inti masalahnya.

" Sebenarnya apa yang terjadi, bu ?" tanya saya.

Ibu Linda pun menceritakan permasalahanya. 

Begini Pak Af, sekitar setahun lalu saya jatuh dari motor. Sejak kejadian itu, entah kenapa saya jadi takut naik kendaraan. Bukan cuma motor, mobil pun sama. Setiap mau menyalakan mesin, badan saya langsung dingin dan keringat keluar. Padahal jatuhnya waktu itu tidak parah sama sekali.”

Kasus seperti ini aneh tapi nyata. 

Kejadian yang tampaknya sepele, tidak membahayakan, tidak menimbulkan luka serius, tapi dampaknya luar biasa besar. Sampai membuat seseorang trauma berat terhadap kendaraan.

=========================================================================

Incidence of Post-Traumatic Stress Disorder After Road Traffic Accident Fekadu et al., Frontiers in Psychiatry (2019)

Memberi bukti empiris bahwa RTA ( Road Traffic Accident ) sering diikuti gejala PTSDberguna untuk memperkuat klaim bahwa trauma “kelihatannya kecilbisa menyebabkan gangguan psikis serius.

Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) Resulting from Road Traffic Accidents — Systematic review (MDPI / 2025)

Menyimpulkan bahwa persentase PTSD setelah RTA signifikan (angka pooled bervariasi antar studi) dan sering disertai depresi/ansietas.

=========================================================================

Saya mencoba lanjut menggali informasi.

Coba ibu ingat-ingat lagi, apakah ada kejadian lain yang menyertai kecelakaan itu?”

Ibu Linda berpikir sejenak.

Setahu saya tidak ada Pak. Saya baik-baik saja waktu itu.”

Trauma tidak pernah beridiri sendiri, saya meyakini hal itu. Setiap trauma pasti mempunya kejadian pendukungnya. Tidak ada emosi besar yang muncul tanpa penguat di belakangnya.

Semua kejadian tersimpan di memori baik disadari maupun tidak. Dan sering kali, memori penting itu justru disembunyikan oleh ego.

Saatnya Terapi Dimulai

Saya mulai sesi terapi dengan membawa Ibu Linda masuk ke kondisi hipnosis. Tujuannya satu: agar memori lama bisa muncul dengan utuhTeknik yang saya gunakan adalah Regression, memutar kembali memori masa lalu untuk menemukan akar masalah.

Ibu Linda mulai bercerita :

" Saya masih ingat, waktu itu ban sepedah motor saya tergelincir dan motor muter 180 derajat pak, dan seketika saya jatuh "

Lalu, setelah kejadia tersebut, apa lagi yang ibu lihat ? 

" Saya melihat anak kecil berdiri didepan pintu pak "

Siapa anak kecil itu, Bu ?

" Itu anak saya pak, dia sangat shock melihat saya jatuh, dan disitu saya merasa bersalah "

Bukan jatuh dari motor yang menjadi trauma utama. Tetapi rasa bersalah terhadap anaknya. Perasaan bersalah itulah yang mengunci emosi negatif, lalu diperkuat oleh ego menjadi trauma naik kendaraan.

Setalah saya rasa akar masalahnya adalah " rasa bersalah terhadap anaknya ", maka langkah selanjutnya adalah memproses akar masalah tersebut dengan berbagai macam teknik tentunya. 

Ketika emosi negatif sudah dilepaskan, dan ego sudah berdamai, saya mengakhiri sesi dan mengembalikan Ibu Linda ke kondisi sadar. Hasilnya sangat memuaskan, ibu linda langsung uji coba menghidupkan kendaraan ( mobil ), dan emosi itu sudah mulai netral perlahan, sudah mulai bisa mengontrol emosinya.


Post a Comment

Followers