Pernahkah Anda mengalami saat di mana tubuh Anda diam, tetapi pikiran Anda bergerak ke segala arah? Setelah hanya beberapa menit berusaha untuk tenang, secara mendadak kenangan lama muncul, diikuti dengan kecemasan mengenai masa mendatang, dan kemudian pikiran beralih ke hal-hal kecil yang mungkin tidak berarti. Keadaan ini bukan indikator lemahnya mental, apalagi menunjukkan kurangnya keyakinan atau kematangan emosional. Sebaliknya, pikiran yang susah untuk tenang adalah situasi yang sangat manusiawi.
Mengapa Pikiran Sulit Diam ?
Secara biologis, otak manusia tidak dibuat untuk “diam sepenuhnya”. Salah satu sistem penting di dalam otak dikenal sebagai Default Mode Network (DMN). Jaringan ini berfungsi aktif ketika seseorang tidak terlibat dalam tugas tertentu, contohnya saat berkhayal, mengingat kejadian yang pernah terjadi, atau merencanakan masa depan. Penelitian yang dilakukan oleh Raichle et al. (2001) mengungkapkan bahwa DMN beroperasi secara otomatis dan tanpa henti, bahkan ketika kita sedang bersantai.
Masalah timbul ketika aktivitas DMN ( Default Mode Network ) menjadi sangat berlebihan. Pikiran mulai dipenuhi dengan pemikiran yang berlebihan, penyesalan akan masa lalu, kekhawatiran tentang masa depan, dan percakapan internal yang tak pernah berhenti. Dalam bidang psikologi, kondisi ini sering kali dihubungkan dengan stres jangka panjang, kecemasan, hingga depresi (Whitfield-Gabrieli dan Ford, 2012).
Selain aspek biologis, lingkungan saat ini juga memperburuk situasi ini. Notifikasi dari ponsel, tekanan pekerjaan, media sosial, dan informasi yang terus menerus mengalir membuat pikiran jarang dapat sepenuhnya terfokus pada satu waktu.
Dari perspektif psikologi yang berkaitan dengan evolusi, pikiran yang selalu aktif sejatinya bertindak sebagai mekanisme perlindungan. Otak senantiasa mencari potensi bahaya agar manusia dapat bertahan. Namun, di zaman kini, bahaya itu bukan lagi dari hewan liar atau buas, melainkan dari tenggat waktu, penilaian orang lain, dan kecemasan akan kegagalan. Sayangnya, mekanisme ini sering kali beroperasi secara berlebihan.
Apa dampak ketika pikiran seseorang tidak bisa diam ?
Pikiran yang terus menerus aktif tanpa henti dapat berdampak pada kondisi mental dan fisik seseorang. Studi menunjukkan bahwa ruminasi, yaitu pikiran negatif yang berulang, berkait erat dengan depresi serta gangguan kecemasan. Selain itu, tubuh juga mengalami dampak: kualitas tidur menurun, otot menjadi tegang, pernapasan lebih pendek, dan sistem saraf dalam keadaan siaga terus-menerus.
Di tahap ini, banyak orang berusaha untuk "memaksa" pikiran agar berhenti. Namun, secara ironis, semakin keras usaha tersebut, pikiran justru semakin mengganggu. Di sinilah praktik mindfulness memberikan pendekatan yang berbeda.
Apa itu Mindfulness ?
Mindfulness atau kesadaran penuh bukanlah tentang menghilangkan semua pemikiran, tetapi lebih kepada menyadari sepenuhnya pengalaman yang sedang terjadi tanpa memberikan penilaian. Penjelasan ini banyak dipopulerkan oleh Jon Kabat-Zinn pada tahun 1994, yang merupakan pendiri program Pengurangan Stres Berbasis Kesadaran Penuh.
Dalam praktik mindfulness, fokus utama bukanlah untuk menghentikan pikiran, tetapi untuk merubah cara kita berinteraksi dengan pikiran-pikiran tersebut. Pikiran masih akan muncul, tetapi kita diajarkan untuk mengamatinya tanpa terjebak di dalamnya.
Sebagai ilustrasi, saat pikiran menyatakan, “Saya tidak cukup baik,” mindfulness mendorong kita untuk menyadari: “Oh, ada pikiran mengenai ketidakmampuan yang muncul. ” Bukan untuk menentang atau mempercayainya sepenuhnya, tetapi mengetahui bahwa ini adalah sebuah peristiwa dalam pikiran.
Bagaimana Mindfulness membantu pikiran yang sulit diam ?
Secara ilmiah, mindfulness telah terbukti berdampak pada struktur serta kerja otak. Studi fMRI oleh Brewer et al. (2011) menunjukkan bahwa melakukan praktik perhatian penuh dapat mengurangi aktivitas Default Mode Network ( DMN ). Ini menunjukkan bahwa pikiran menjadi lebih tenang dan tidak mudah terjerat dalam pemikiran berulang.
Penelitian lain yang dilakukan oleh Hölzel et al. (2011) menunjukkan bahwa berlatih mindfulness secara teratur dapat mempertebal korteks prefrontal, area otak yang penting untuk pengaturan emosi dan fokus, dan juga mengurangi reaktivitas amigdala yang terkait dengan respon terhadap stres.
Secara Psikologis, mindfulness membantu dengan tiga cara utama :
1. Meningkatkan Kesadaran diri
2. Mengurangi reaktivitas emosional
3. Menghadirkan Rasa Menerima
Pikiran yang tak kunjung henti bukanlah lawan, melainkan tanda bahwa pikiran kita sedang berusaha dengan keras. Mindfulness tidak menginstruksikan kita untuk menghentikan pemikiran, tetapi memberikan cara untuk hidup berdampingan dengan pikiran kita dengan lebih cerdas.
Dengan mindfulness, kita belajar bahwa ketenangan bukan berasal dari pikiran yang kosong, melainkan dari kesadaran yang hadir. Saat kita berhenti melawan pikiran dan mulai mengamatinya dengan lembut, di situlah ruang tenang perlahan muncul.
Post a Comment