bTAdcGyjDYctOAregRSyJNQ4u84UQ71qfMmtpvCa

Terjadinya Trauma : Memahami Penyebab Awal Luka Psikologis dalam Diri Manusia

Self-Healing, Mindfulness, Mental Wellness, Trauma.
Trauma merupakan salah satu situasi psikologis yang paling rumit dalam kehidupan manusia. Ia tidak selalu terlihat secara jelas, sering kali tidak datang dengan cidera fisik, dan sering juga tidak disadari oleh mereka yang mengalaminya. Banyak orang yang tumbuh, bekerja, berkeluarga, dan bahkan mencapai sukses, sambil membawa trauma yang mereka tidak pernah benar-benar pahami asal-usulnya. Artikel ini akan membahas secara rinci tentang bagaimana trauma muncul, proses pembentukannya, faktor-faktor yang mempengaruhinya, dan mengapa pengalaman serupa dapat memberikan dampak yang berbeda bagi setiap individu.

Apa Itu Trauma ?

Dari sudut pandang psikologis, trauma bukan hanya tentang pengalaman yang menyakitkan, tetapi juga adalah reaksi internal atas situasi yang dianggap membahayakan keamanan, identitas, atau arti kehidupan individu. Asosiasi Psikologi Amerika (APA) menjelaskan bahwa trauma adalah reaksi emosional yang terjadi akibat peristiwa menakutkan seperti kecelakaan, bencana, kekerasan, atau kehilangan.

Namun, yang perlu dipahami adalah bahwa trauma tidak ditentukan oleh kejadian itu sendiri, tapi bagaimana cara sistem saraf dan mental seseorang mengatasi kejadian tersebut. Dua orang bisa mengalami situasi yang serupa, tetapi hanya satu yang mungkin merasakan trauma yang mendalam.

Awal Mula Tejadinya Trauma

Trauma pada seseorang sering kali bermula dari kondisi saat :
  • Mengalami ketidak berdayaan

  • Menghadapi ancaman

  • Tidak memiliki tempat yang aman untuk memahami pengalaman mereka

  • Merasakan emosi yang kuat tanpa dukungan yang cukup

Saat keempat situasi ini terjadi bersamaan, sistem pertahanan diri seseorang akan berfungsi dengan sangat intens.

Peran Pada Sistem Saraf

Ketika seseorang berhadapan dengan bahaya, tubuhnya secara otomatis memicu reaksi melawan, melarikan diri, atau beku ini yang sering dikenal dengan fight, flight, dan freeze. Sistem saraf otonom mengontrol reaksi ini, dan tujuannya adalah untuk mempertahankan diri.

Trauma Muncul ketika :
  • Reaksi ini tidak dapat diselesaikan

  • Energi bertahan terperangkap dalam tubuh

  • Otak tidak sempat memproses pengalaman tersebut dengan cara yang logis

Sebagai hasilnya, pengalaman itu disimpan sebagai ingatan yang emosional dan sensori, bukan sebagai memori yang biasa.

Trauma Tidak Selalu Berasal Dari Peristiwa Besar

Salah satu pemahaman yang keliru adalah anggapan bahwa trauma hanya disebabkan oleh peristiwa besar, seperti perang atau bencana alam. Namun, sebetulnya trauma juga bisa timbul dari pengalaman yang terlihat "normal", terutama jika pengalaman tersebut terjadi berulang kali dalam waktu yang panjang.

Trauma Akut : Biasanya terjadi akibat dari peristiwa besar seperti :

1. Trauma Akibat Kecelakaan


Kecelakaan, seperti kecelakaan lalu lintas atau kerja, adalah kejadian yang tiba-tiba dan tidak terduga, sehingga sistem saraf tidak dapat bersiap-siap untuk memberikan respons yang sesuai.

Pada saat kecelakaan Terjadi :
  • Amigdala mampu mengenali ancaman yang sangat serius

  • Sistem saraf simpatik mulai aktif

  • Hormon stres seperti adrenalin dan kortisol mulai dilepaskan

Fight – Flight – Freeze :

  • Fight : Tubuh bersiap untuk bertindak melawan (merasa tegang dan agresif)
  • Flight : Ada dorongan kuat untuk menyelamatkan diri
  • Freeze : Ketika tubuh merasa tidak ada cara untuk melarikan diri maka menjadi tidak bergerak

Individu yang terlibat dalam kecelakaan mobil mungkin tidak bisa bergerak selama beberapa detik meskipun sadar. Ini adalah reaksi membeku, bukan tanda kelemahan.

Jika Pasca kecelakaan tidak ada pelepasa emosi, tidak merasa aman, Maka ingatan traumatis akan tersimpan sebagai implicit memory.

2. Trauma Akibat Benca Alam

Bencana alam seperti gempa, banjir, tanah longsor dan tsunami memiliki karakteristik sebagai berikut:

  • Masif
  • Tidak bisa dikendalikan
  • Mengancam banyak nyawa sekaligus

Kondisi ini menyebabkan sistem saraf mengalami tekanan yang berat. Seseorang yang mengalami bencana alam sering sekali " tidak bisa menangis, tidak merasakan emosi, dan merasa kosong ". ini adalah Freeze response, ini adalah mekanisme protektif agar psikis tidak runtuh. Jika fase Freeze berlangsung lama tanpa pemilihan, hal berikutnya akan menjadi trauma kronis atau PTSD.

3. Trauma Akibat Kehilangan seseorang

Kehilangan seseorang yang kita cintai tidak menjadi bahaya fisik, melainkan ancaman bagi rasa aman, keterikatan, dan tujuan hidupOtak kita melihat kehilangan sebagai risiko terhadap kelangsungan hidup sosial.

Fight – Flight – Freeze

  • Fight : Menolak kenyataan (“tidak mungkin terjadi”)
  • Flight : Menghindari perasaan sedih (terlalu sibuk)
  • Freeze : Kehilangan perasaan, depresi

Seseorang mungkin tampakbaik-baik sajasetelah kehilangan orang tua atau orang yang dicintainya, tetapi bertahun-tahun kemudian bisa merasakan kecemasan yang sangat tinggi atau rasa kesepian.

Trauma KronisDampak dari stres yang berkepanjangan dapat muncul karena beberapa hal, seperti:

  • Kekerasan di dalam rumah
  • Perundungan atau pembulian
  • Lingkungan keluarga yang tidak aman secara emosional

Penutup: Memahami untuk Memulihkan

Mengerti asal mula trauma bukan untuk menuding masa lalu, tetapi untuk memberikan pemahaman pada luka yang dirasakan saat ini. Trauma tidak menunjukkan kelemahan, tetapi sebagai bukti bahwa seseorang pernah berupaya untuk bertahan dalam situasi yang sulit.

Kesadaran ialah langkah awal menuju pemulihan. saat individu mulai menyadari bahwa reaksi yang dialami saat ini adalah pantulan dari pengalaman yang lalu, maka proses penyembuhan bisa dimulai secara bertahap, dengan kesadaran, dan penuh kasih saying terhadap diri sendiri.

Trauma mungkin terbentuk dari masa lalu, akan tetapi proses penyembuhan selalu terjadi masa sekarang.

BACA JUGA : Penjelasan Anxiety Disorder

Post a Comment

Followers