Overthinking sering dipandang sebagai kebiasaan berpikir berlebihan, seolah-olah itu hanyalah masalah kurangnya rasa syukur atau terlalu peka. Namun, jika diteliti lebih lanjut, ada hubungan yang kuat antara overthinking dan trauma masa lalu. Banyak individu mendapati diri mereka terjebak dalam berbagai pemikiran, bukan karena keinginan, akan tetapi karena ada bagian dalam diri mereka yang terluka dan belum sepenuhnya pulih.
Artikel ini akan menjelaskan secara mendetail bagaimana trauma masa lalu dapat mempengaruhi pola pemikiran yang berlebihan, mengapa sulit untuk menghentikan pikiran, serta cara untuk memahaminya dengan lebih penuh kasih sayang terhadap diri sendiri.
Apa itu Overthinking ?
Overthinking ialah keadaan saat seseorang secara terus menerus memikirkan masalah, peristiwa, atau kemungkinan negatif secara berulang tanpa menemukan solusi yang jelas. Pikiran yang berputar terus menerus dan analisis yang berlebihan justru membuat individu semakin lelah secara mental.
Ciri-ciri umu dari overthinking meliputi :
- Kesulitan dalam tidur karena pikiran terus menerus bekerja
- Terlalu sering memikirkan kembali masa lalu
- Merasa takut untuk mengambil keputusan
- Mengalami kecemasan tanpa alasan yang jelas
- Sering merasa seolah ada yang tidak beres dengan diri sendiri
Pada saat tertentu, berpikir berlebihan tidak lagi berkaitan dengan logika, melainkan dengan emosi yang belum terselesaikan.
Memahami Luka Batin Masa Lalu
Cedera batin dari masa silam adalah kenangan yang menyakitkan secara emosional dan menyisakan dampak psikologis. Cedera ini bisa muncul dari:
- Pengabaian di masa kanak-kanak
- Pengasuhan yang keras atau tidak aman
- Pengkhianatan dalam hubungan
- Kehilangan seseorang yang dikasihi
- Trauma yang bersifat verbal, emosional, atau fisik
Masalahnya, banyak cedera emosional ini tidak tampak dan sering kali diabaikan. Seseorang mungkin terlihat kuat, berfungsi dengan baik, bahkan berhasil, tetapi di dalam hatinya tersimpan rasa takut, malu, atau ketidakamanan yang belum pernah diselesaikan. Inilah titik awal di mana hubungan overthinking dengan luka batin masa silam mulai terbentuk.
Bagaimana Luka Batin Membentuk Overthinking ?
Overthinking bukanlah sesuatu yang terjadi secara tiba-tiba. Sering kali, ia merupakan hasil dari proses panjang yang berhubungan dengan pengalaman masa lalu yang menyakitkan. Ketika orang terus merenungkan sesuatu dengan sangat mendalam, menganalisis keadaan secara berlebihan, atau terjebak dalam kekhawatiran yang tidak ada akhirnya, biasanya yang berperan bukan hanya aspek logis, tetapi juga kembali pada ingatan emosional yang belum terselesaikan.
Menyadari cara luka batin membentuk pola pikir berlebihan membantu kita memahami bahwa pikiran yang melelahkan tersebut bukanlah suatu ancaman, melainkan suatu cara untuk melindungi diri yang muncul dari pengalaman hidup dimasa lalu.
Luka Batin Sebagai Awal Pola Pikir Overthinking
Luka batin dari masa lalu merupakan pengalaman yang sangat emosional, sering kali meninggalkan dampak psikologis yang mendalam, terutama ketika perasaan tersebut tidak memperoleh kesempatan untuk diproses dengan baik. Luka tersebut dapat muncul karena penolakan, pengabaian emosional, kegagalan dalam hubungan, atau trauma verbal yang berkali-kali terjadi. Apabila luka ini tidak diterima, otak akan berusaha menemukan cara agar rasa sakit tersebut tidak terulang kembali.
Inilah saat di mana pemikiran berlebihan mulai muncul. Pikiran yang terus menerus berjalan, menganalisis, dan memprediksi skenario terburuk sebenarnya adalah usaha otak untuk menciptakan rasa aman. Seseorang berlebihan dalam berpikir bukan karena ingin menyakiti diri sendiri, akan tetapi karena ada bagian dari dirinya yang dahulu merasa sangat tidak aman.
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Nolen-Hoeksema pada tahun 2000 dalam Journal of Abnormal Psychology menunjukkan bahwa rumination atau pola pikir yang berulang sangat terkait dengan pengalaman emosional negatif yang belum teratasi. Orang yang memiliki luka emosional cenderung untuk memikirkan kembali hal-hal sebagai cara untuk memahami, mengendalikan, dan mencegah rasa sakit yang sama di masa depan.
Overthinking Sebagai Mekanisme Bertahan Hidup ( Psikologi )
Dalam ilmu psikologi, memikirkan secara berlebihan bisa dilihat sebagai cara bertahan. Ketika individu mengalami trauma yang mendalam, otak belajar bahwa dunia bisa menjadi tempat yang menyakitkan. Alhasil, sistem saraf menjadi lebih peka terhadap ancaman, baik yang nyata maupun yang hanya dibayangkan.
Overthinking kemudian menjadi alat untuk " Mempersiapkan potensi buruk sebelum itu terjadi, Mengatur situasi agar tetap merasa aman, Menghindari kesalahan yang bisa menyebabkan penolakan atau luka baru ".
Sayangnya, cara bertahan ini berjalan terlalu jauh. Pikiran tetap aktif bahkan saat sebenarnya situasi aman. Otak tidak mampu mengkatagorikan antara bahaya yang lalu dan keadaan saat ini. Hal inilah yang membuat seseorang merasa mentalnya lelah, tetapi tetap sulit untuk menghentikan pemikirannya.
Peran Masa Lalu dalam Overthinking
Keterkaitan antara overthinking dan luka batin di masa lalu terlihat dari bagaimana pikiran cenderung terjebak dalam kejadian yang sudah terjadi. Seseorang bisa saja terus-menerus kembali ke pengalaman yang lama, merasa menyesal atas pilihan yang diambil, atau menghakimi diri sendiri untuk hal-hal yang sudah lewat.
Secara psikologis, fenomena ini muncul karena emosi yang berhubungan dengan pengalaman itu belum sepenuhnya diproses. Pikiran seakan berusaha untuk "memperbaiki" masa lalu dengan analisis yang tak kunjung usai, padahal yang diperlukan bukan tambahan logika, tetapi pemrosesan emosi yang lebih dalam.
Watkins (2008) dalam Clinical Psychology Review menyatakan bahwa rumination menjadi masalah ketika seseorang terus bertanya "mengapa" tanpa maju ke arah penerimaan atau pemahaman yang lebih sehat. Overthinking pada akhirnya tidak memberikan solusi, melainkan memperburuk penderitaan.
Cara Mengolah Overthinking
1. Berhenti Melawan, dan Cobalah Mendengarkan
Ketika kita melawan, pikiran berlebihan justru menjadi semakin kuat. Cobalah untuk bertanya pada diri sendiri:
"Bagian manakah dalam diriku yang merasa takut? "
Cara ini mengalihkan perhatian dari mengendalikan pikiran ke pemahaman emosi.
2. Sadari bahwa pikiran tidak selalu membawa Fakta
Pikiran berlebihan seringkali mengulang asumsi, bukan fakta. Penting untuk belajar membedakan " Apa yang benar-benar terjadi atau apa yang hanya kketakutan lama
3. Validasi Emosi bukan Menghakimi
Daripada berkata, "Aku lemah karena berpikir berlebihan," cobalah untuk mengatakan "Aku berpikir terlalu banyak karena pernah mengalami luka. ". Menghargai emosi merupakan langkah pertama dalam proses penyembuhan.
4. Pendampingan Orang Profesional
Terapi yang fokus pada trauma, penyembuhan anak, atau metode somatik bisa membantu mengatasi luka emosional di masa lalu dengan cara yang lebih aman dan mendalam.
Penutup : Overthinking Bukanlah Sebuah Masalah, Melaikan Petunjuk
Memahami keterkaitan antara overthinking dan trauma masa lalu memungkinkan kita untuk melihat diri kita sendiri dengan lebih penuh kasih. Berpikir berlebihan bukanlah indikasi kegagalan, tetapi menunjukkan bahwa kita pernah berjuang sendirian untuk waktu yang lama.
Saat trauma mulai diterima dan dipahami, pikiran akan mulai belajar bahwa dunia sudah tidak seberbahaya seperti sebelumnya. Pada saat itu, overthinking tidak akan lagi mengendalikan hidup kita, tetapi hanya akan menjadi pengunjung yang datang sesekali dan bisa pergi.
BACA JUGA : Anxiety dan Overthinking
Post a Comment