bTAdcGyjDYctOAregRSyJNQ4u84UQ71qfMmtpvCa

Rumination Menurut Psikologi

Anxiety, trauma, self-healing, maindfulness, mental wellness, client story

Rumination dalam Psikologi: Mengapa Overthinking Terus Mengulang Luka di Dalam Pikiran

Overthinking kerap kali diibaratkan sebagai kebiasaan berpikir terlalu banyak yang sepele. Banyak orang menertawakannya dan menyebutnya sebagai “kebanyakan mikir” atau “terlalu sensitif. ” Namun, dalam ilmu psikologi, overthinking memiliki makna yang lebih mendalam, salah satunya dikenal sebagai rumination. Rumination bukan hanya tentang memikirkan suatu masalah, akan tetapi pola berpikir yang berulang pada tema yang sama tanpa menghasilkan jawaban yang jelas.

Persitiwa ini semakin umum di zaman modern, terutama di tengah tekanan sosial, tuntutan untuk produktif, dan harapan pribadi yang tinggi. Seseorang bisa saja terlihat baik-baik saja dari luar, akan tetapi di dalam pikirannya, terjadi dialog internal yang cukup melelahkan dan tak berujung. Artikel ini akan mengeksplorasi rumination dari sudut pandang psikologi, kaitannya dengan overthinking, penyebabnya, dampaknya terhadap kesehatan mental, serta metode untuk mengatasi masalah ini dengan cara yang sehat.

Rumination Merupakan Pola Pikir yang Berulang

Dalam pandangan psikologis, rumination ialah kecondongan seseorang yang berulang kali memikirkan pengalaman negatif, kesalahan yang telah dilakukan di masa lalu, atau perasaan yang tidak menyenangkan tanpa mencari jalan keluar. Menurut Susan Nolen-Hoeksema, seorang psikolog yang berfokus pada rumination, pola ini membuat seseorang terjebak dalam pola pikir yang pasif dan terus berulang, bukan aktif mencari solusi yang mungkin.

Rumination tidak memberikan wawasan baru. Pikiran cenderung mengulang-ulang pertanyaan seperti “Mengapa aku jadi begini? ”, “Seandainya saja aku tidak melakukan itu dulu”, atau “Apa yang salah dengan diriku? ”. Hal ini membuat rumination sering kali terkait erat dengan overthinking, bahkan bisa menjadi bentuk overthinking yang paling menguras tenaga secara emosional.

Hubungan Rumination dengan Overthinking

Dalam pelaksanaannya, rumination seringkali dianggap sebagai bagian utama dari overthinking. overthinking meliputi banyak jenis, dari memikirkan masa depan terlalu dalam hingga menganalisis interaksi sosial secara berlebihan. Namun, rumination lebih spesifik karena menitikberatkan pada masa lalu dan perasaan negatif.

Individu yang mengalami overthinking akan mempertimbangkan berbagai kemungkinan, akan tetapi individu dengan rumination cendrung terfokus pada satu kejadian atau emosi tertentu. Sebagai contoh, sebuah komentar kecil dari orang lain bisa jadi akan selalu di ingat, dianalisis, dan dipikirkan kembali dalam pikiran selama beberap hari. Inilah sebabnya mengapa overthinking dan cemas sering terjadi bersamaan dengan rumination.

Penyebab Overthinking dalam Bentuk Rumination

Dalam ilmu psikologis, ada beberapa faktor yang bisa menyebabkan overthinking, terutama dalam bentuk rumination
  • Pengalaman emosional yang belum selesai : Perasaan yang menyakitkan, seperti luka batin, penolakan, kegagalan, atau trauma yang tidak diolah dengan baik, sering kali tersimpan di bawah sadar orang tersebut. Rumination muncul sebagai cara pikiran berusaha untuk "memahami" rasa sakit itu, meskipun sebenarnya malah menyiksa diri sendiri.
  • Perfeksionisme dan standar pribadi yang tinggi : Orang yang perfeksionis sering kali sulit menerima kesalahan. Setiap kesalahan kecil bisa terpikirkan berkali-kali, seakan itu adalah bukti kegagalan diri.
  • Harga diri yang rendah : Individu dengan self-esteem yang rendah cenderung lebih sering menyalahkan diri sendiri. Rumination menjadi cara untuk menyalahkan diri secara terus-menerus.
  • Kebutuhan akan rasa aman : Overthinking dan rumination kerap kali muncul sebagai usaha otak untuk mencari rasa aman dan kendali, meskipun pada kenyataannya hasilnya justru bertolak belakang.

Dampak Overthinking Pada Kesehatan Mental

Jika hal ini terus di abaikan, pemikiran berulang dapat menyebabkan dampak berlebihan pada kesehatan mental. Salah satu efek yang sering terjadi adalah kelelahan emosional. Ketika pikiran terus-menerus berputar, energi mental menjadi terkuras, sehingga seseorang mudah merasa lelah, cepat marah, dan kehilangan semangat.

Selain itu, rumination juga dapat " memperburuk gejala depresi, meningkatnya rasa cemas dalam bersosialisasi, mempengaruhi kualitas tidur, mengurangi kemampuan berkonsentrasi dan produktivitas, dan mengikat individu dalam rasa berasalah dan malu ".

Cara Mengatasi Rumination Dari Segi Psikologis

Menghentikan rumination tidak berarti menghentikan semua pemikiran. Sebenarnya, cara untuk mengatasi rumination dimulai dengan mengubah cara kita berhubungan dengan pikiran kita. Berikut adalah beberapa metode yang digunakan dalam bidang psikologi:
  • Mindfulness : Dengan mengetahui bahwa pikiran hanyalah kegiatan mental dan bukan kebenaran yang mutlak, seseorang dapat belajar untuk tidak terjebak di dalamnya.
  • Mengalihkan perhatian ke tubuh : Kegiatan fisik yang ringan, pernapasan yang di ikuti dengan kesadar, atau grounding dapat membantu menghentikan dominasi pikiran dan memulihkan kesadaran ke saat sekarang.
  • Menulis Pikiran : Mengeluarkan pikiran ke dalam tulisan dapat memberikan jarak emosional dan mengurangi intensitas overthinking.
  • Mencari bantuan profesional : Terapi kognitif dan terapi berbasis emosi teruji membantu individu keluar dari pola rumination yang berkepanjangan.

Penguatan Ilmiah : Rumination dan Overthinking

========================================================================
Rumination Sebagai Faktor Utama Depresi dan Overthinking

Penelitian yang dilakukan oleh Nolen-Hoeksema pada tahun 2000 menunjukkan bahwa rumination adalah cara berpikir yang berlanjut, yang memperhatikan penyebab serta dampak emosi negatif tanpa mencari jalan keluar. Penemuan ini menunjukkan bahwa orang yang cenderung mengalami rumination akan mengalami periode depresi yang lebih lama dan lebih mudah terjebak dalam pemikiran berlebih yang kronis.

Nolen-Hoeksema, S. (2000). The role of rumination in depressive disorders and mixed anxiety/depressive symptoms. Journal of Abnormal Psychology, 109(3), 504–51

Hubungan Overthinking, Rumination dan Kecemasan

Penelitian yang dilakukan oleh McLaughlin & Nolen-Hoeksema (2011) menunjukkan bahwa rumination berfungsi sebagai penghubung antara stres emosional dan timbulnya gangguan kecemasan. Ini berarti bahwa bukan hanya stres yang mengakibatkan kecemasan, tetapi cara individu merenungkan stres tersebut secara terus-menerus (overthinking) dapat mengintensifkan kondisi mental.

McLaughlin, K. A., & Nolen-Hoeksema, S. (2011). Rumination as a transdiagnostic factor in depression and anxiety. Behaviour Research and Therapy, 49(3), 186–193.

Dampak Rumination Terhadap Kesehatan Mental

Watkins (2008) berpendapat bahwa rumination memiliki efek tidak hanya pada mood, tetapi juga mengganggu kemampuan untuk memecahkan masalah dan mengatur emosi. Orang yang sering overthinking biasanya mengalami kebuntuan berpikir, yang membuat mereka susah membuat keputusan dan lebih cepat merasa tidak berdaya.

Hal ini menunjukkan bagaimana overthinking memengaruhi kesehatan mental, termasuk kelelahan emosional, degradasi produktivitas, dan meningkatnya rasa putus asa.

Watkins, E. R. (2008). Constructive and unconstructive repetitive thought. Psychological Bulletin, 134(2), 163–206.

========================================================================

Rumination tidak menunjukkan kelemahan, tetapi menandakan bahwa ada perasaan yang belum diselesaikan. Dalam bidang psikologi, overthinking dianggap sebagai cara bertahan hidup yang salah, usaha otak untuk melindungi diri dari sakit dengan terus berpikir. Namun, metode ini sering kali justru membuat penderitaan semakin panjang.

Dengan menyadari bahwa rumination adalah pola pikir yang dapat diubah, seseorang dapat memiliki peluang untuk menciptakan hubungan yang lebih baik dengan pikirannya sendiri. Overthinking tidak perlu menjadi penjara di dalam pikiran. Ia bisa membuka jalan menuju kesadaran diri, pemulihan emosional, dan perkembangan psikologis yang lebih positif.

Post a Comment

Followers