bTAdcGyjDYctOAregRSyJNQ4u84UQ71qfMmtpvCa

Ketika Cinta Berubah Menjadi Ketakutan

Anxietyt, Trauma, Self-healing, Mental wellness, mindfulness, clien story, love

Analisis Psikologis Perempuan yang Bertahan pada Relasi yang Menyakiti

Putusnya hubungan romantis sering kali menjadi peristiwa yang menyakitkan, namun pada sebagian individu, perpisahan dapat memicu tekanan psikologis yang jauh lebih dalam. Kisah seorang perempuan berusia 25 tahun yang mengalami tekanan hebat setelah diputuskan pacarnya memperlihatkan kompleksitas relasi antara cinta, ketakutan, rasa bersalah, dan luka psikologis. Kondisinya tidak hanya dipengaruhi oleh kehilangan pasangan, tetapi juga oleh keterlibatan hubungan intim pranikah, masalah kesehatan reproduksi, serta ketakutan akan reaksi keluarga dan stigma sosial.

Yang menarik, meskipun sang pria telah memutuskan hubungan, memiliki pasangan baru, dan memutus komunikasi, perempuan ini tetap memiliki satu tujuan utama: menikah dengan pria tersebut, bagaimanapun caranya. Artikel ini membahas secara mendalam faktor-faktor psikologis dan sosial yang membuat seseorang dapat terjebak dalam dorongan obsesif untuk mempertahankan relasi yang telah berakhir, bahkan ketika relasi tersebut jelas menyakitkan.

Gambaran Kasus Psikologis

Perempuan ini menunjukkan beberapa gejala psikologis yang signifikan, antara lain:
  • Ketakutan ekstrem akan kehilangan pasangan
  • Kecemasan sosial dan keluarga
  • Rasa bersalah dan malu terkait hubungan intim
  • Ketergantungan emosional
  • Pola pikir “satu-satunya harapan” pada satu sosok
Secara klinis, kondisi ini tidak dapat dipahami hanya sebagai “cinta yang berlebihan”, melainkan sebagai hasil interaksi antara faktor psikologis internal dan tekanan eksternal.

Teori Attachment: Ketika Ikatan Menjadi Ketergantungan

Salah satu pendekatan paling relevan untuk memahami kasus ini adalah Attachment Theory. Menurut Bowlby dan dikembangkan oleh Hazan & Shaver, individu dengan anxious attachment style cenderung memiliki ketakutan yang intens terhadap penolakan dan kehilangan. Pada individu dengan pola keterikatan cemas :
  • Pasangan dipersepsikan sebagai sumber keamanan utama
  • Perpisahan dianggap sebagai ancaman terhadap identitas diri
  • Penolakan memicu kecemasan ekstrem dan pikiran obsesif
Penelitian oleh Mikulincer & Shaver (2016) menunjukkan bahwa individu dengan anxious attachment lebih mungkin:
  • Bertahan pada relasi yang tidak sehat
  • Mengabaikan perilaku menyakitkan pasangan
  • Memiliki fantasi rekonsiliasi yang irasional
Dalam kasus ini, keinginan menikah “bagaimanapun caranya” bukanlah bentuk cinta rasional, melainkan upaya psikologis untuk menghilangkan rasa takut ditinggalkan.

Peran Hubungan Intim dan Ikatan Biologis

Hubungan intim bukan hanya aktivitas fisik, tetapi juga memicu ikatan biologis yang kuat melalui hormon seperti oksitosin dan vasopresin. Penelitian neuropsikologi menunjukkan bahwa oksitosin berperan besar dalam membentuk rasa keterikatan, kepercayaan, dan bonding emosional, terutama pada perempuan. Menurut Carter (2014), keterlibatan seksual yang disertai kedekatan emosional dapat:
  • Memperkuat ikatan emosional secara tidak proposional
  • Menurunkan kemampuan objektif dalam menilai hubungan
  • Meningkatkan rasa kehilangan saat hubungan berakhir
Dalam konteks ini, hubungan intim yang berulang memperdalam keterikatan, sehingga kehilangan pasangan tidak hanya dirasakan sebagai kehilangan cinta, tetapi juga kehilangan rasa aman biologis dan emosional.

Rasa Bersalah, Malu, dan Stigma Sosial

Faktor penting lain adalah rasa bersalah dan malu. Dalam budaya masyarakat yang masih memandang hubungan intim pranikah sebagai pelanggaran norma, perempuan sering kali memikul beban moral yang lebih berat dibanding laki-laki. Penelitian oleh Tangney & Dearing (2002) menjelaskan bahwa:
  • Rasa malu membuat individu merasa dirinya rusak
  • Rasa bersalah mendorong keinginan memperbaiki situasi dengan cara apa pun
  • Kombinasi keduanya dapat menurunkan harga diri secara drastis
Keinginan menikah dengan pria tersebut dapat dipahami sebagai upaya untuk:
  • Menebus kesalahan yang lalu
  • Mengembalikan kehormatan diri
  • Menghindari penilaian negatif keluarga dan lingkungan
Dalam pikirannya, pernikahan menjadi satu-satunya jalan untuk menghapus rasa bersalah dan malu.

Ketakutan Pulang ke Rumah dan Internalized Fear

Ketakutan untuk pulang ke rumah dan menghadapi keluarga menunjukkan adanya internalized fear, ketakutan yang telah tertanam dalam diri, bahkan sebelum ancaman nyata terjadi. Studi dalam Journal of Family Psychology menunjukkan bahwa individu yang tumbuh dalam lingkungan keluarga yang keras atau minim validasi emosional lebih rentan mengalami kecemasan berlebihan saat menghadapi konflik keluarga. Ketakutan ini memperkuat ilusi bahwa:
  • Jika aku tidak menikah dengannya, maka hidupku hancur
  • Keluargaku tidak akan menerimaku
  • Aku sendirian jika kehilangan dia
Dengan demikian, pasangan bukan hanya objek cinta, tetapi juga tameng psikologis dari rasa takut sosial dan keluarga.

Cognitive Distortion: Terjebak dalam Pola Pikir Tidak Rasional

Perempuan ini juga menunjukkan beberapa bentuk cognitive distortion, antara lain:
  • Catastrophizing : Membayangkan masa depan terburuk jika tidak menikah
  • All-or-nothing thinking: melihat hidup hanya punya satu solusi
  • Emotional reasoning: menganggap perasaan takut sebagai kebenaran objektif
Beck (2011) menjelaskan bahwa pada kondisi stres berat, individu cenderung kehilangan kemampuan berpikir fleksibel dan rasional, sehingga terjebak dalam satu narasi sempit tentang keselamatan dan harapan.

Penutup : 

Kasus ini mengajarkan bahwa tidak semua keinginan untuk kembali dengan mantan pasangan berakar pada cinta yang sehat. Dalam banyak kasus, keinginan tersebut merupakan manifestasi dari trauma, ketakutan, dan luka psikologis yang belum terselesaikan. Pendekatan empatik dan terapeutik sangat dibutuhkan untuk membantu individu seperti perempuan ini membangun kembali rasa aman dari dalam dirinya, bukan menggantungkan keselamatan emosional pada orang lain.

Memahami dinamika psikologis ini penting, tidak hanya bagi praktisi kesehatan mental, tetapi juga bagi masyarakat luas agar tidak menyederhanakan penderitaan psikologis sebagai sekadar “tidak bisa move
 on”.

OlderNewest

Post a Comment

Followers