bTAdcGyjDYctOAregRSyJNQ4u84UQ71qfMmtpvCa

Mengatasi Blokade Imajinasi dan Emosi: Studi Evaluasi Klinis dan Pendekatan Terapi Spiritual

Anxiety, Trauma, Self-healing, mindfulness, mental wellness, clien story

 Pendahuluan

Kemampuan membayangkan atau "melihat dengan pikiran" merupakan bagian penting dari pengalaman emosional manusia, terutama dalam konteks hubungan dengan orang lain. Citra mental memberi kesempatan bagi seseorang untuk mengingat wajah orang tercinta, merasakan kedekatan emosional, dan membayangkan harapan untuk masa depan. Namun, tidak semua individu dapat melakukannya dengan mudah. Beberapa orang bahkan tidak bisa membayangkan sosok penting dalam hidup mereka, walaupun mereka tahu bahwa orang itu ada.

Dalam kasus yang penulis tangani, seorang ayah yang berprofesi sebagai pengusaha tidak dapat membayangkan wajah anaknya. Yang muncul dalam pikirannya hanyalah bentuk berselimut warna hitam, dan saat berusaha memikirkan anaknya atau mendengar namanya, dia merasakan sesak di dadanya yang sangat kuat. Kasus ini menunjukkan fenomena yang bukan hanya berkaitan dengan pikiran, tetapi juga sangat berhubungan dengan emosi dan trauma.

Tulisan ini membahas fenomena itu dari sudut pandang psikologi, ilmu saraf, dan keterkaitannya dengan pengalaman traumatik serta ikatan emosional. Selain itu, dijelaskan pula bagaimana pendekatan spiritual melalui pembacaan ayat-ayat Al-Qur'an dapat membantu mengembalikan proses imajinasi dan emosi yang terhalang.

1. Mental Imagery Dalam Imu Psikologi

Mental imagery ialah kemampuan seseorang untuk menggambarkan objek atau kejadian dalam pikiran tanpa adanya rangsangan dari luar. Banyak orang dapat membayangkan wajah, lokasi, atau keadaan tertentu saat diminta contohnya, membayangkan wajah anak mereka ketika disebutkan namanya. Namun, keadaan di mana seseorang tidak dapat melakukan visualisasi seperti itu telah dikenal dalam tulisan sebagai aphantasia, ketidakmampuan untuk secara sukarela menciptakan citra mental yang bersifat visual. 

Peran Imajinasi Mental dalam Emosi

Studi membuktikan bahwa kemampuan untuk membayangkan sangat terkait dengan seberapa kuat seseorang merasakan emosi dari pengalaman tersebut. Individu yang memiliki imajinasi yang jelas biasanya merasakan emosi mereka dengan lebih kuat dibandingkan dengan mereka yang tidak dapat membayangkan dengan baik atau yang tidak bisa berimajinasi. Penelitian terbaru bahkan mengungkapkan bahwa orang yang mengalami aphantasia cenderung menunjukkan respon emosional yang berbeda saat mereka mengimajinasikan pengalaman romantis atau emosional yang signifikan, jika dibandingkan dengan individu yang memiliki kemampuan visualisasi yang normal.

Mental imagery sering kali berfungsi sebagai "penguat emosional," meningkatkan reaksi emosional karena otak menangani gambaran mental hampir mirip dengan pengalaman langsung. Jika individu tidak dapat mengimajinasikan wajah anaknya, ini menunjukkan hilangnya akses emosional terhadap hubungan tersebut dari sisi mental imagery.

Jurnal : “The critical role of mental imagery in human emotion: insights from fear-based imagery and aphantasia” (Wicken, Keogh & Pearson, 2021):

2. Trauma, Attachment, dan Batas Imajinatif

Dampak Trauma pada Imaji Mental

Trauma psikologis, seperti berakhirnya sebuah hubungan yang penting atau konflik intens dapat menggangu memori autobiografi serta kemampuan untuk membayangkan secara mental. Trauma bisa mengakibatkan memori emosional menjadi terfragmentasi ari ingatan sadar. Teori Representasi Ganda (DRT) dalam kajian trauma menunjukkan bahwa memori yang berhubungan dengan trauma sering kali tersembunyi dalam sistem memori situasional yang sulit untuk diakses dengan kesadaran, sedangkan memori sadar lainnya (verbal dan naratif) masih dapat dijelaskan.

Dalam kasus yang ditangani saya, ada kemungkinan bahwa ayah itu menderita trauma attachment akibat perceraian dan list berhubungan dengan putranya. Trauma ini dapat mengakibatkan proses pemikiran visualnya terhambat sebagai cara perlindungan untuk menghindari rasa sakit yang cukup mendalam. Oleh karena itu, Ketika ia berusaha untuk membayangkan wajah anaknya, mekanisme emosional dan kognitifnya berfungsi untuk menghalangi pengalaman visual tersebut, dan pada akhirnya menghasilkan gambaran gelap serta reaksi sesak didadanya.

Trauma attachment atau gangguan dalam ikatan emosional sering kali berhubungan dengan alexithymia, yaitu kondisi yang ditandai dengan kesulitan dalam mengenali, memproses, atau mengekspresikan emosi. Individu yang mengalami alexithymia sering kali kesulitan dalam mengaitkan pemikiran dengan perasaan, sehingga pengalaman emosional mereka menjadi tidak jelas atau buram.

Trauma dalam Konteks Keluarga dan Attachment

Perceraian dalam pernikahan dan pembatasan interaksi dengan anak bisa menjadi sumber trauma psikologis yang signifikan. Jenis trauma ini tidak hanya berpengaruh pada kondisi emosional, tetapi juga bisa menggoyahkan hubungan sosial dan citra diri. Saat individu merasakan kehilangan dari hubungan emosional yang berarti, otak dapat menciptakan reaksi pertahanan yang kuat.

3. Psikofisiologi: Reaksi Sesak Dada dan Sistem Emosional

Respon fisik seperti rasa sesak di dada bisa dipahami melalui respons melawan ( fight ) atau melarikan diri ( flight ) yang dihasilkan oleh sistem saraf otonom ketika seseorang berhadapan dengan rangsangan emosional yang dianggap sebagai ancaman atau pengalaman yang menyakitkan. Saat ayah ini berusaha mengimajinasikan ajah anaknya, reaksi tubuh meskipun berasal dari rangsangan internal (pikiran) dapat terpicu karena sistem saraf masih menganggap situasi itu sebagai ancaman emosional atau tekanan.

Reaksi semacam ini biasanya muncul pada gangguan kecemasan atau PTSD, di mana pikiran atau kenangan internal dapat memicu reaksi fisik yang kuat. Penelitian mengenai PTSD menunjukkan bahwa kenangan traumatis sering kali terkait dengan elemen sensori atau gambaran emosional, bukan sekadar narasi verbal, dan ini dapat menyebabkan reaksi fisik yang tidak menyenangkan saat diingat.

4. Metode Terapi: Penggabungan Spiritual dan Emosional

Membaca ayat-ayat dari Al-Qur’an dapat memberikan ketenangan dan berfungsi untuk mengaktifkan sistem emosional yang lebih stabil dan teratur. Dalam pendekatan klinis berbasis Islam, Al-Qur’an sering dipakai sebagai penghubung untuk membantu mengurangi rasa cemas, meningkatkan kesadaran, serta memperkuat hubungan hati dengan hal-hal yang bermakna secara emosional dan spiritual.

Dalam kasus ini, saat klien mulai mengimajinasikan wajah anaknya sambil dibacakan Qur'an, ia merasakan emosi yang meluap-luap yang sebelumnya tertahan. Metode ini berkontribusi dalam mengurangi reaksi fisik yang tidak menguntungkan dan memberi akses pada visualisasi yang lebih terang. Ini dapat dipahami karena bacaan ayat yang bersifat spiritual memberikan rasa tenang dan penerimaan, yang memungkinkan sistem emosional klien untuk menangani pengalaman traumatis secara bertahap.

KESIMPULAN :

Kasus seorang ayah yang tidak dapat mengimajinasikan wajah anaknya dan merasakan sesak di dadanya saat mencoba melakukannya, mencerminkan perpaduan rumit antara imajinasi mental, trauma emosional, dan keterikatan yang terganggu. Penelitian membuktikan bahwa kemampuan untuk menciptakan imajinasi mental sangat berkaitan dengan pengalaman emosional dan hubungan sosial. Trauma yang berkaitan dengan keterikatan serta pengalaman emosional yang menyakitkan bisa menyebabkan hambatan dalam sistem imajinasi mental dan memicu reaksi fisik sebagai respons terhadap stres internal. Metode terapi yang holistik, terutama yang menggabungkan aspek psikologis dengan spiritualitas, dapat membantu membuka kembali kemampuan visualisasi dan memproses emosi yang terpendam, seperti yang dialami oleh klien dalam kasus ini.

Post a Comment

Followers